Hari Penglihatan Sedunia, Tunanetra Diajak Lawan Mager

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tunanetra berjalan dengan menggunakan tongkatnya menuju sebuah stadion Changa Medero untuk ikuti latihan baseball, di Havana, Cuba 17 Mei 2017. REUTERS

    Tunanetra berjalan dengan menggunakan tongkatnya menuju sebuah stadion Changa Medero untuk ikuti latihan baseball, di Havana, Cuba 17 Mei 2017. REUTERS

    TEMPO.CO, Bandung - Syamsi Dhuha Foundation kembali mengadakan acara tahunan peringatan Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day. Puncak acaranya berlangsung hari ini, Sabtu, 12 Oktober 2019 di Bandung, Jawa Barat.

    Berbagai kegiatan diadakan, di antaranya olahraga jalan kaki dan lari, dengan tujuan mengajak tunanetra tidak malas bergerak alias mager. Ketua Syamsi Dhuha Foundation atau SDF, Dian Syarief mengatakan membuat acara Blind Run and Walk pukul 06.00 WIB di Sarana Olahraga ITB. Acara puncak itu melibatkan sekitar 200 peserta dari kalangan disabilitas netra beserta pendampingnya.

    Tema peringatan tahun ini sama secara global yaitu Vision First. "Mengutamakan pentingnya penglihatan, semua peduli dengan kesehatan mata dan akses pengobatan yang merata," kata Laila Panchasari, Manager Syamsi Dhuha Foundation, Jumat, 11 Oktober 2019.

    Sebelum menggelar Blind Run and Walk, mereka mengadakan program edukasi dan sosialisasi, seperti nonton bareng film motivasi sampai kelas merias wajah. Yayasan juga rencananya akan meluncurkan buku elektronik berjudul Petualangan Dana bagi disabilitas netra yang merupakan hasil kerjasama dengan program studi Desain Komunikasi Visual ITB.

    Dian Syarief menjelaskan, buku tersebut bisa membunyikan cerita dengan dua pilihan bahasa, yakni Indonesia dan Inggris. Adapula versi cetaknya berupa buku bergambar 24 halaman yang dirancang khusus dengan pewarnaan kontras, layout, dan spasi berjarak. Ukuran huruf juga dibuat lebih besar dan diberi tactile supaya dapat diraba.

    Syamsi Dhuha Foundation bakal memperkenalkan hasil pengembangan desain tongkat tunanetra I-Cane hasil kerjasama dengan program studi Desain Produk dan Biomedika ITB. Menurut Dian Syarief, tongkat I-Cane dilengkapi GPS untuk bisa melacak keberadaan pengguna. Pelacakan lokasi ini bermanfaat, terutama jika penggunanya kehilangan arah.

    Tongkat tunanetra I-Cane ini juga dilengkapi sensor penghalang yang dapat berbunyi. Di ujung tongkat dipasangi roda kecil untuk memudahkan pergerakan dan bisa berubah sebagai tumpuan saat harus naik tangga atau di atas permukaan yang tidak rata.

    Dian Syamsi melanjutkan, ada pula layanan konsultasi mata gratis bersama para dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Mata Cicendo. Peserta tunanetra juga bakal mendapat pengetahuan teknologi informasi agar dapat mengoperasikan berbagai perangkat digital. "Dengan begitu mereka dapat mengembangkan potensi diri dan lebih produktif," kata Dian yang juga low vision.

    Untuk menginspirasi para peserta acara Blind Run and Walk, yayasan ini juga menghadirkan Kasyfi Kalyasyena, seorang pianis muda asal Garut yang berhasil mengukir prestasi sampai ke mancanegara. Dia meraih penghargaan dalam kompetisi internasional bagi disabilitas, yaitu The Kennedy Center VSA (Very Special Arts) International Young Soloists Competition 2019 di Washington DC, Amerika Serikat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.