Mengetahui Cara Siswa Tunanetra Menghafal Al-Quran

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa tuna netra PSBN Wyata Guna membaca Al Quran usai salat Dzuhur di Bandung, Jawa Barat, Senin 6 Mei 2019. Para siswa mengisi waktu istirahat dengan mengaji Al Quran Braille saat bulan Ramadan 1440 H. TEMPO/Prima Mulia

    Siswa tuna netra PSBN Wyata Guna membaca Al Quran usai salat Dzuhur di Bandung, Jawa Barat, Senin 6 Mei 2019. Para siswa mengisi waktu istirahat dengan mengaji Al Quran Braille saat bulan Ramadan 1440 H. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Suara lantunan ayat suci Al-Quran terdengar dari sebuah ruangan di Yayasan Raudhatul Makfufin, Tanggerang Selatan, Kamis sore 9 Mei 2019. Di dalam ruangan itu, seorang siswa tunanetra kelas IX bernama Afif Mahendra sedang mendaraskan hafalan ayat Al-Quran kepada tiga gurunya.

    Baca: Cara Penyandang Disabilitas Ganda Tunanetra - Tuli Berkomunikasi

    "Saya harus menyetor tujuh ayat setiap pagi di hari Senin, Rabu, Kamis, dan mengulangnya kembali tujuh ayat pada sore hari setiap Senin sampai Kamis kepada guru," kata Afif Mahendra saat diwawancara di Yayasan Raudhatul Makfufin.

    Sudah 3 tahun Afif belajar menghafal Al-Quran dan bercita-cita menjadi penghafal yang Mutqin atau 30 juz dengan tajwid dan kaidah pembacaan Al-Quran yang benar di luar kepala.

    Afif Mahendra mengaku merasakan kedamaian setiap kali berlatih menghafal Al-Quran. Anak ketiga dari enam bersaudara ini terbiasa menghafal ayat Al-Quran selama 1 sampai 2 jam saban hari. Begitu pula ketika ia mengulangnya di sore hari.

    Menghafal Al-Quran, menurut putra dari pasangan Wahyudi dan Ade Nurhasanah, ini bukan sekadar mengucapkan ayat-ayat di luar kepala. Lebih dari sekadar latihan ingatan, seorang pengafal Al-Quran juga harus menjaga diri dan perilaku serta mematuhi perintah agama dan menjauhi larangannya.

    Baca juga: Cara Difabel Netra Menyelamatkan Diri Saat Gempa di Sekolah

    Perilaku menjaga diri yang dimaksud Afif Mahendra, misalnya berhati-hati saat bicara, menjaga sumber makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta sangat jarang mengoperasikan ponsel. Yayasan Raudhatul Makfufin hanya membolehkan para santri menggunakan telepon selular pada hari Jumat.

    Siswa tunanetra Afif Mahendra menghapal Al-Quran. TEMPO | Cheta Nilawaty

    Jika ingin mencari informasi di Internet, pengelola Yayasan menyediakan komputer dengan akses internet di ruang tertentu. "Jadi komputer ini tidak bisa dibawa ke mana-mana sehingga tidak merusak fokus santri, berbeda dengan telepon seluler yang dapat dilihat dan dibawa ke mana-mana," ujar Abdul Rahman, Wakil Kepala Santri di Yayasan Raudhatul Makfufin.

    Afif Mahendra biasanya menghafal bacaan Al-Quran menggunakan alat pemutar lagu atau mp3 player dan membaca Al-Quran dalam format huruf Braille. Mendengar membuatnya lebih cepat mengingat ayat-ayat Al-Quran dan lantunannya, dilengkapi dengan meraba setiap huruf melalui Al-Quran Braille sehingga Afif bisa mengetahui tanda baca supaya pelafalannya sesuai tajwid.

    Artikel lainnya: Pelaut Tunanetra Asal Jepang Lintasi Samudera Pasifik

    Saat ini Afif hafal 20 juz Al-Quran. Dia berharap bisa menjadi penghafal yang Mutqin dalam tempo 6 bulan sampai 1 tahun ke depan. Untuk mengatasi rasa jenuh selama menghafal Al-Quran, Afif memilih tidak menambah hafalan ayat, melainkan mengulang lagi bacaan yang sudah dikuasainya. "Cara ini akan melatih otak saya untuk berpikir lebih keras dan menghilangkan rasa jenuh," ujar Afif.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Politik Dinasti dalam Partai Peserta Pemilihan Legislatif 2019

    Kehadiran politik dinasti mewarnai penyelenggaraan pemilihan legislatif 2019. Sejumlah istri, anak, hingga kerabat kepala daerah.