Jadi Sorotan Media, Patung Kertas Karya Difabel Sartono Laris

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sartono, 55 tahun, difabel netra perajin patung kertas asal Kampung Sekalekan, Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, sedang mengemas patung-patung buatannya yang diborong pembeli pada Kamis, 6 Desember 2018. Dinda Leo Listy / KLATEN

    Sartono, 55 tahun, difabel netra perajin patung kertas asal Kampung Sekalekan, Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, sedang mengemas patung-patung buatannya yang diborong pembeli pada Kamis, 6 Desember 2018. Dinda Leo Listy / KLATEN

    TEMPO.CO, Klaten - Sobekan kertas bertebaran di lantai saat Tempo bertandang ke tempat tinggal Sartono, difabel netra perajin patung kertas. Pria 55 tahun itu sedang membuat patung berwujud laki-laki seukuran tubuhnya dari bahan kertas, bambu, dan lem kanji.

    Baca: Tunanetra Sartono Berjalan Tanpa tongkat, Pakai Mata Batin

    "Ini sedang membuat stok karena patung saya tinggal sedikit," kata Sartono di Kampung Sekalekan, Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, pada Kamis, 6 Desember 2018. Meski tunanetra, Sartono tampak cermat dan teliti saat membuat lekukan-lekukan pada wajah patung baru yang mulai dia kerjakan sejak Sabtu pekan lalu itu.

    Kedua tangannya juga cekatan menambal beberapa bagian tubuh patung berangka bambu itu dengan sobekan-sobekan kertas koran yang dilumuri lem kanji buatan sendiri. Sartono mengatakan, dalam sepekan ini sudah ada dua pembeli yang sengaja mencari tempat tinggalnya setelah mengetahui kemahirannya membuat patung dari media.

    "Pembeli pertama itu suami istri dari Kalikuning, Klaten. Mereka bawa mobil dan mengajak seorang cucunya," kata Sartono yang tinggal di sebuah rumah berlantai dua untuk indekos para karyawan, sekitar 200 meter di selatan Alun-alun Klaten. Di rumah milik mantan majikan istrinya itu, Sartono tinggal bersama istri dan anak semata wayangnya yang menyandang tunagrahita.

    Sartono, 55 tahun, difabel netra asal Kabupaten Klaten sedang membuat patung berbahan bambu dan kertas koran di rumah indekos tempatnya tinggal di Kampung Sekalekan, Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah, pada Kamis, 6 Desember 2018. Dinda Leo Listy / KLATEN

    Menurut Sartono, pembeli itu penasaran dengan kemampuan Sartono membuat patung setelah menyaksikan penampilannya di Hitam Putih, acara bincang-bincang yang dipandu Deddy Corbuzier, beberapa waktu lalu. Sartono diundang ke acara Hitam Putih setelah pekerjaannya membuat patung serta kisah hidupnya sebagai difabel netra sejak kelas 3 SD dimuat di Tempo.co pada 8 - 9 November 2018.

    Berita terkait: Tunanetra Sartono Mahir Bikin Patung Kertas

    Tanpa menawar, Sartono berujar, pembeli itu memilih patung berwujud laki-laki sedang duduk membaca koran dan patung anjing hitam dengan harga total Rp 325 ribu. Kedua patung itu sebelumnya turut diangkut Sartono ke studio Trans 7 di Jakarta untuk properti ketika diundang sebagai salah satu bintang tamu di Hitam Putih.

    Sartono, 55 tahun, tunanetra pembuat patung di Kampung Sekalekan, Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, pada Rabu, 7 November 2018. Dinda Leo Listy / KLATEN

    "Kalau pembeli yang kedua itu dari Kecamatan Delanggu, Klaten. Orangnya masih muda. Dia membeli setelah dikasih tahu temannya yang membaca berita tentang saya di internet," ujar Sartono. Pembeli itu memborong enam patung berwujud hewan dengan ukuran bervariasi seharga Rp 600 ribu untuk disumbangkan ke salah satu Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD.

    Selain pembeli, Sartono juga kedatangan beberapa jurnalis dari media lokal maupun nasional sepulang dari Jakarta pada Rabu pekan lalu. Dia menambahkan, patung-patung yang dibawanya ke Jakarta untuk keperluan properti di acara Hitam Putih itu sebenarnya hendak dia berikan ke studio Trans 7.

    "Tapi mereka bilang jangan. Bukannya menolak, mereka meyakinkan saya bahwa pembeli akan berdatangan setelah saya pulang dari Jakarta. Eh, ternyata benar," kata Sartono sambil tersenyum puas.

    Artikel lainnya: Ada Kelas Makeup untuk Tunanetra, Bagaimana Caranya?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.