Minggu, 18 November 2018

Komunitas Tunanetra Cinta Film Indonesia, Nonton Lalu Bedah Film

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang 'visual reader' (kiri) membisiki alur cerita film Ada Apa dengan Cinta 2? kepada penyandang tunanetra saat mengikuti acara Bioskop Harewos di Bandung, Jawa Barat, Ahad, 12 Agustus 2018. Bioskop tersebut ditujukan untuk memberikan sensasi menonton film kepada tunanetra dengan cara mempertemukan mereka dengan orang baru di luar lingkungannya. ANTARA/Raisan Al Farisi.

    Seorang 'visual reader' (kiri) membisiki alur cerita film Ada Apa dengan Cinta 2? kepada penyandang tunanetra saat mengikuti acara Bioskop Harewos di Bandung, Jawa Barat, Ahad, 12 Agustus 2018. Bioskop tersebut ditujukan untuk memberikan sensasi menonton film kepada tunanetra dengan cara mempertemukan mereka dengan orang baru di luar lingkungannya. ANTARA/Raisan Al Farisi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak komunitas tunanetra yang secara mandiri melakukan kegiatan sinema berbisik. Sebagian dari mereka bahkan melakukan diskusi khusus seusai menonton film. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Komunitas Tunanetra Cinta Film Indonesia atau KTCFI.

    Baca: Kesulitan Teman Disabilitas Saat Berurusan dengan Bank

    Komunitas yang digagas seorang pegiat film Indonesia dari Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail atau PPHUI, Budi Sumarno dan seorang tunanetra Dodi Iskandar ini cukup sering mengadakan acara nonton film mandiri yang dilakukan anggotanya. Komunitas ini juga aktif melontarkan pendapat mereka tentang film yang baru saja ditonton berdasarkan penggambaran yang dilakukan oleh pembisik dan deskripsi suara.

    "Menurut saya, film yang asyik ditonton itu film yang dapat menggambarkan adegan per adegan secara jelas," kata Taufik Zulfikri, seorang anggota Komunitas Tunanetra Cinta Film Indonesia pada Sabtu 27 Oktober 2018.

    Film yang dapat digambarkan dengan jelas adegan per adegannya membuat tunanetra mampu membayangkan seperti apa gambaran film tersebut. Dengan begitu mereka bisa memahami bukan hanya dari dialog, namun juga imajinasi. "Dari semua genre, film komedi yang paling disuka."

    Relawan pendamping membisiki alur cerita kepada tunanetra di Bioskop Harewos (bioskop berbisik) di Nuart Sculpture Park, Bandung, Jawa Barat. TEMPO/Prima Mulia.

    Sebelum melakukan aktivitas sinema berbisik mandiri, komunitas ini sering mengadakan pemutaran film di salah satu ruangan gedung pusat perfilman Haji Usmar Ismail. Berbagai jenis film diputar pada Rabu minggu kedua setiap bulannya. Film yang lebih sering diputar adalah film Indonesia.

    "Awalnya berasal dari komunitas pencinta film Indonesia yang menyukai film-film Indonesia zaman dulu, namun kami merasa perlu ada inklusi film dan memberikan kesempatan untuk teman disabilitas dalam mengakses film," ujar penggagas KTCFI, Budi Sumarno.

    Baca juga: Cara Mengenalkan Proses Reproduksi untuk Difabel

    Selain menonton, komunitas ini juga menggelar diskusi film yang melibatkan lembaga lain. Ada pula kegiatan latihan tentang film untuk komunitas penyandang disabilitas. Untuk kegiatan ini, biasanya dipilih beberapa tunanetra untuk turut serta kemudian membagikan ilmunya kepada yang lain.

    Selain mengadakan pemutaran film di gedung PPHUI, komunitas ini juga aktif menonton film secara mandiri. Biasanya, para anggota komunitas membawa teman atau kerabat sebagai relawan pembisik. "Kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat, ada visi misi inklusif yang kami bawa pada setiap acara menonton film," ujar Dodi Iskandar.

    Artikel lainnya: Cara Tunanetra Bermain Catur


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.