Kamis, 16 Agustus 2018

3 Tanda Anak Mengalami Gangguan Pendengaran

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak kecil kenakan earphone/headset. shutterstock.com

    Ilustrasi anak kecil kenakan earphone/headset. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Gangguan pendengaran pada anak sulit terdeteksi karena biasanya anak memberikan reaksi umum, seperti menggumam atau diam. Reaksi seperti ini membuat orang tua mereka berpikir anaknya baik-baik saja.

    Baca juga:
    Libur Sekolah, Ajak Anak Berkebutuhan Khusus Liburan
    Cara Mengajarkan Matematika kepada Anak Berkebutuhan Khusus

    Ahli Audio Vestibular yang juga Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan dari RS Premiere Bintaro, Siti Faisa mengatakan reaksi seperti itu terjadi karena anak dengan gangguan pendengaran belum sadar bunyi. "Anak yang mengalami gangguan pendengaran juga tidak mengetahui seperti apa itu spektrum bunyi," kata Siti Faisa saat diwawancara di Cohlear Experience and Training Center, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

    Berikut ini beberapa respons anak terhadap bunyi yang wajib diwaspadai orang tua. Meskipun tidak mutlak, tanda dan reaksi ini bisa menjadi diagnosa awal seorang anak mengalami gangguan pendengaran.

    1. Terlambat bicara
    Setiap anak yang lahir akan melalui beberapa tahapan dan proses bicara yang sesuai dengan tumbuh kembangnya. Tahapan ini harus menjadi perhatian orang tua. Sebab, beberapa anak ada yang mengalami keterlambatan bicara tapi orang tua menganggapnya biasa sehingga mengabaikan kondisi itu.

    Orang tua perlu memperhatikan rentang umur anak dan tahapan bicaranya. Meski begitu, tidak semua anak terlambat bicara mengalami gangguan pendengaran.

    Beberapa anak sudah ada yang merespons bunyi dengan gumaman di usia 8 bulan. Namun bila anak merespons bunyi dengan gumaman di usia 2 sampai 4 tahun, sebaiknya orang tua berkonsultasi ke dokter spesialis atau terapis bicara.

    2. Artikulasi anak terhadap beberapa konsonan tidak jelas atau hilang
    Ada beberapa anak yang belum sempurna mengucapkan atau mengartikulasikan huruf konsonan, seperti huruf R dan NG. Beberapa anak juga mengalami kesulitan mengucapkan huruf, seperti S atau K. Namun sekali lagi, artikulasi ini harus disesuaikan dengan usia tumbuh kembang anak.

    3. Anak cenderung melihat wajah ketika diajak bicara
    Anak yang mengalami gangguan pendengaran cenderung membaca gerak bibir lawan bicaranya. Sehingga ketika berbicara mereka cenderung menatap muka lawan bicara terutama bibir. Perilaku ini sering disebut sebagai Lip Reading.

    Meski reaksi pada anak ini sering terjadi pada perilakunya sehari-hari, orang tua tetap wajib memeriksakan anak ke dokter spesialis, terutama spesialis tumbuh kembang dan telinga hidung tenggorokan.

    Siti Faisa menjelaskan, ada beberapa tes yang harus dilewati demi penegakan diagnosa apakah seorang anak mengalami gangguan pendengaran atau tidak. Beberapa tes yang perlu dijalani antara lain tes Oto Acoustic Emission atau OAE yang merupakan skrining pendengaran untuk menilai sela rambut yang terdapat di rumah siput atau koklea, dan tes Brainstem Evoked Response Audiometry atau BERA untuk melihat reaksi sistem saraf pendengaran dan batang otak pada saat dilalui rangsangan bunyi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI dan Buah Pikir Ma'ruf Amin, Calon Wakil Jokowi

    Beberapa buah pikiran Ma'ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia pilihan Jokowi untuk menjadi wakilnya, yang mengundang komentar publik.