Aplikasi Penerjemah Bahasa Isyarat dari Peneliti Universitas Indonesia

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang ibu belajar bahasa isyarat di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat (13/04). Bahasa isyarat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan bahasa isyarat. TEMPO/Dasril Roszandi

    Seorang ibu belajar bahasa isyarat di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat (13/04). Bahasa isyarat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan bahasa isyarat. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti dan pengajar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Erdefi Rakun mengembangkan aplikasi penerjemah Gerakan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) atau bahasa isyarat ke teks Bahasa Indonesia. "Sekarang dalam tahap purwarupa. Akhir tahun ini kemungkinan selesai," kata dia, Kamis 28 Agustus 2020.

    Ada dua aplikasi yang disiapkan oleh Erdefi. Pertama, aplikasi yang menerjemahkan gerakan SIBI menjadi teks Indonesia. Dengan aplikasi ini, maka penyandang disabilits rungu bisa berkomunikasi dengan yang tak mengerti bahasa isyarat. Sebab, gerakannya akan diterjemahkan oleh aplikasi itu ke dalam teks.

    Aplikasi kedua bekerja sebaliknya: menerjemahkan teks menjadi bahasa isyarat. Keduanya nanti akan menjadi satu aplikasi. Menurut Erdefi, aplikasi ini mulai dikerjakan sejak 2012. Pembuatannya tergolong lama karena sistemnya yang kompleks.

    Secara sederhana, aplikasi ini menerjemahkan semua isi kamus SIBI yang memiliki sekitar 3.000 huruf. Awalnya yang dilakukan adalah menerjemahkan kata dasar. Setelah itu kata berimbuhan, kalimat, alfabet, angka dan seterusnya. "Prototipenya baru selesai Juli lalu," kata dia.

    Aplikasi kini dalam tahap perbaikan. Erdefi mengatakan, semua huruf dalam SIBI akan dimasukkan. Sekarang sudah menerjemahkan 2.300 huruf. Animasinya juga diperbaiki agar tampilan mukanya lebih baik. Juga akan dikembangkan supaya bisa beroperasi secara online dan offline. Pengembangan aplikasi ini didanai skema hibah sehingga patennya juga akan menjadi milik Universitas Indonesia.

    Pembuatan aplikasi ini didukung oleh sejumlah peneliti dari Laboratorium Machine Learning and Computer Vision Fasilkom Universitas Indonesia. Mereka bekerja sama dengan para guru dan murid Sekolah Luar Biasa Santi Rama yang beralamat di Jalan Rumah Sakit Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan yang telah menguasai SIBI.

    Selama ini sudah ada beberapa aplikasi bahasa isyarat yang bisa membantu para difabel rungu. Perbedaan aplikasi yang dikembangkan Ederfi ini adalah memiliki dua fungsi. "Kami gabungkan dua aplikasi ini sehingga bisa interaktif," kata dia. Sekarang purwarupa aplikasi ini baru untuk sistem operasi Android, dan rencananya akan disiapkan versi sistem operasi Apple IoS.

    MAJALAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Febri Diansyah dan Jumlah Mereka yang Pamit dari KPK 5 Tahun Terakhir

    Mantan Kepala Biro Humas KPK, Febri Diansyah, menyatakan telah mengajukan surat pengunduran diri. Selama 5 tahun terakhir, berapa pegawai yang pamit?