10 Fakta Unik Tongkat Putih Tunanetra

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyandang tunanetra menyusuri jalan raya saat mengikuti rally tongkat dalam rangka Hari Disabilitas Internasional di Bandung, Jawa Barat, 12 Desember 2017. Rally tongkat yang berjarak 7 km ini, peserta harus melewati jalan raya, trotoar hingga gang-gang sempit di dalam pemukiman warga. TEMPO/Prima Mulia

    Penyandang tunanetra menyusuri jalan raya saat mengikuti rally tongkat dalam rangka Hari Disabilitas Internasional di Bandung, Jawa Barat, 12 Desember 2017. Rally tongkat yang berjarak 7 km ini, peserta harus melewati jalan raya, trotoar hingga gang-gang sempit di dalam pemukiman warga. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Tongkat tunanetra atau dikenal degan nama White Cane adalah bagian dari identitas yang tidak dapat dipisahkan dari tunanetra. Identitas ini juga menjadi simbol kemandirian orang-orang yang tidak lagi memiliki penglihatan.

    Lantaran White Cane sangat berarti, maka ada hari peringatannya yakni setiap tanggal 15 Oktober. Salah satu sekolah khusus tunanetra tertua, Perkins menyampaikan sepuluh fakta menarik tentang tongkat tunanetra.

    Berikut 10 hal unik dari White Cane atau tongkat putih tunanetra:

    1. Tongkat tunanetra harus diperiksa di bandara
      Setiap tunanetra boleh membawa tongkat putih di bandara. Namun tongkat tersebut harus melewati pemeriksaan XRay lebih dulu untuk memastikan itu adalah tongkat tunanetra, bukan senjata.

    2. Asal usul warna putih tongkat tunanetra
      Warna putih berasal dari permintaan George A. Bonham, Presiden Lions Club.
      Bonham punya alasan kuat ihwal warna tongkat tunanetra ini. Pada satu malam di tahun 1930, dia melihat tunanetra tertabrak mobil karena tunanetra tersebut memakai tongkat berwarna hitam. Kepada polisi, pengendara mobil mengaku tidak melihat tunanetra tersebut.

    3. Teknologi untuk tongkat putih
      Tongkat putih mempermudah penerapan teknolgi bagi penggunanya. Di Inggris, India dan Prancis, warna putih memudahkan penerapan perangkat ultrasonik untuk mendeteksi penghalang langkah tunanetra dalam jarak 4,5 meter di depan.

    4. Teknik Hoover
      Teknik pengoperasian tongkat putih ditemukan pada tahun 1944 oleh seorang veteran perang bernama Richard E. Hoover. Dia memberikan standar teknik pengoperasian dengan cara mengharmonisasikan langkah kaki dan ketukan tongkat di lantai yang dikenal dengan nama teknik Hoover.

    5. Penggunaan tongkat putih
      Hanya dua sampai delapan persen tunanetra menggunakan secara intensif tongkatnya untuk berjalan. Tunanetra lebih banyak mengandalkan anjing pemandu, kendaraan bermotor, atau pendamping saat melakukan mobilitas. Tongkat umumnya dipakai dalam mobilitas jarak dekat.

    6. Terdapat tiga fungsi utama tongkat tunanetra
      Pertama sebagai alat navigasi arah bagi mereka yang mengalami keterbatasan mobilitas. Kedua, sebagai alat pendukung bagi mereka yang memiliki penglihatan lemah atau low vision. Ketiga, sebagai identitas bagi tunanetra sebagian atau hambatan penglihatan sebagian.

    7. Tongkat putih digunakan oleh non-tunanetra
      Seorang yang masih bisa melihat dapat menjadi instruktur orientasi dan mobilitas bagi tunanetra. Syaratnya, berhasil melakukan mobilitas sendiri dengan menggunakan penutup mata dan tongkat putih selama 120 jam. Kegiatan ini juga harus bersertifikat.

    8. Bahan tongkat putih
      Tongkat putih ada yang terbuat dari bahan Alumunium Fiber Glass atau Carbon Fiber Glass murni. Jenisnya ada yang bisa dilipat ataupun tidak. Pilihan tipe tongkat putih tergantung selera penggunanya.

    9. Lomba menggunakan tongkat putih
      Perlombaan ini diperuntukkan bagi tunanetra muda berusia di bawah 13 tahun. Di usia ini, tunanetra dianggap masih memiliki insting mobilitas bawaan yang baik.

    10. Hukuman bagi yang pura-pura memakai tongkat putih
      Penggunaan tongkat putih oleh mereka yang non-tunanetra di sebagian negara dapat dikenakan sanksi. Di Florida, Amerika Serikat, tongkat putih kerap disalahgunakan sebagai bentuk pemalsuan identitas agar memperoleh prioritas di jalan. Pelaku tindak pidana ringan ini dapat dijerat hukuman penjara selama 60 hari.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.