Yura Yunita Mengenal Sastra dalam Bahasa Isyarat

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyanyi Yura Yunita saat tampil di kantor Tempo, Jakarta, Selasa 10 Desember 2019. Yura Yunita menyanyikan lagu Merakit, sekaligus promo single berkolaborasi dengan difabel. TEMPO/Fajar Januarta

    Penyanyi Yura Yunita saat tampil di kantor Tempo, Jakarta, Selasa 10 Desember 2019. Yura Yunita menyanyikan lagu Merakit, sekaligus promo single berkolaborasi dengan difabel. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Lagu Merakit dalam album terbaru berjudul sama karya Yura Yunita erat kisahnya dengan kelompok difabel. Yura menciptakan lagu itu setelah bertemu dengan kawan tunanetra di sebuah yayasan.

    Setelah albumnya dirilis September 2018, dalam suatu kesempatan, Yura bertemu dengan Galuh Sukmara, teman tuli yang memiliki yayasan pendidikan untuk anak tuli di Bekasi, Jawa Barat. Galuh mengatakan lirik lagu Merakit sangat berkesan bagi kawan tuli sepertinya.

    Galuh lantas mengajak Yura menerjemahkan liriknya ke dalam bahasa isyarat agar lebih banyak teman tuli bisa menikmatinya. Mulanya Yura Yunita bingung bagaimana menerjemahkan lagunya ke dalam bahasa isyarat. Setelah berbincang dengan Galuh, Yura paham bahwa bahasa isyarat juga bisa digunakan untuk menyampaikan makna yang tak harfiah.

    Teman tuli juga bisa menikmati lagu lewat getaran. "Ternyata bahasa isyarat juga punya ‘bahasa sastra’-nya, tidak hanya bahasa sehari-hari," tutur Yura di kantor Tempo, Selasa, 10 Desember 2019.

    Penyanyi Yura Yunita saat tampil di kantor Tempo, Jakarta, Selasa 10 Desember 2019. Menurut Yura, para penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk dapat mengembangkan bakat di dirinya dan bekerja berdasarkan ketertarikan mereka. Sayangnya, di Indonesia belum banyak wadah yang memfasilitasi hal tersebut. TEMPO/Fajar Januarta

    Hanya sehari Yura didampingi penerjemah bahasa isyarat untuk berbincang dengan Galuh. Hari berikutnya, dia diminta menggunakan bahasa isyarat semampunya. Yura merasakan pengalaman menarik saat proses penerjemahan lagunya.

    Ada suatu waktu Galuh meletakkan tangan di pengeras suara atau di bagian dada dan punggung Yura untuk merasakan getaran dan tempo dari lagu itu. Irama turut dicatat. Semua itu, kata dia, menjadi unsur penting untuk menentukan bahasa isyarat lagu tersebut.

    Yura Yunita kini bisa lebih luwes berkomunikasi dengan teman tuli. "Sama saja kalau ketemu orang asing dari Jepang atau Eropa, bahasa kita beda. Tapi jangan takut mencoba," ucapnya. Album terbarunya itu meraih AMI Award 2019 untuk kategori album pop terbaik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.