Menyesap Wangi Kopi Barista Inklusi

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Barista Inklusi di Festival Benang Merah di lapangan Puro Pakualaman Yogyakarta pada 23 Juni 2019. TEMPO/Shinta.Maharani

    Barista Inklusi di Festival Benang Merah di lapangan Puro Pakualaman Yogyakarta pada 23 Juni 2019. TEMPO/Shinta.Maharani

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Wangi kopi jenis arabika gayo Aceh menguar di lapangan Puro Pakualaman Yogyakarta. Seduhan kopi tanpa gula ini berasa asam dan menyegarkan. Transpuan Tika Aurora menyeduh kopi tersebut dengan telaten dan cekatan. Dia menuang air panas dari teko ke alat seduh kopi manual brewing, V60. Bubuk kopi itu hasil penggilingan mesin grinder yang dimasukkan ke alat seduh berlapiskan penyaring dari kertas.

    Baca: Studi: Perubahan Iklim Ancam Tanaman Kopi dan Cokelat

    Barista tersebut mempersilakan pengunjung untuk belajar menyeduh. Satu per satu pengunjung datang menyesap kopi di stand bertuliskan barista inklusi. Kopi itu gratis dan sehari ada sekitar 200 gelas kopi yang disajikan. "Kopi tubruk racikan kami juga disukai," kata Tika, Ahad, 23 Juni 2019.

    Tika bersama Wahyu Mulad Widodo, seorang tuna daksa (kaki dan tangan kanan sulit digerakkan) juga aktif menjawab pertanyaan pengunjung.

    Keduanya merupakan barista inklusi Program Peduli Yakkum, pusat rehabilitasi untuk penyandang disabilitas di Jalan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Mereka terlibat sebagai barista dalam acara Festival Benang Merah, acara yang digagas Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial bersama sejumlah lembaga selama dua hari, 22-23 Juni 2019. Festival ini mempertemukan kelompok minoritas, di antaranya penghayat kepercayaan dan disabilitas. Selain barista inklusi, acara diisi dengan kegiatan seni budaya seperti tari, belajar aksara Jawa, dan macapatan.

    Stand barista inklusi terlihat ramai pengunjung. Selain tuna daksa dan kelompok minoritas transpuan, barista inklusi juga beranggotakan penyandang disabilitas bertubuh kecil, pembelajar yang lambat, orang dengan disabilitas psiko sosial yang salah satunya adalah bipolar. Ada juga barista dari kelompok penghayat kepercayaan Majelis Luhur Eklasing Budi Murko.

    Sebelum menjadi barista, Tika dan Wahyu mengikuti serangkaian pelatihan tentang kopi dari hulu hingga hilir. Mereka belajar mengenal varietas kopi, datang ke sentra perkebunan kopi di Temanggung Jawa Tengah, praktek, dan magang di sejumlah kafe. Pelatihan itu mereka ikuti selama 6 pekan.

    Barista Inklusi di Festival Benang Merah di lapangan Puro Pakualaman Yogyakarta pada 23 Juni 2019. TEMPO/Shinta.Maharani)

    Tika mulai ikut pelatihan menjadi barista sejak awal 2019. Transpuan yang bergabung dengan Ikatan Waria Yogyakarta ini belajar mengenal kopi mentah, cara pengupasan kopi, pencucian, pengeringan, penggorengan hingga penyeduhan. Tika selama ini dikenal sebagai transpuan yang bekerja sebagai perias pengantin dan wisuda di Yogyakarta. Di sela pekerjaan utamanya itulah, Tika terus berdaya dengan menjadi barista kopi inklusi. "Saya mendapat banyak pengetahuan dan relasi," kata Tika.

    Senada dengan Tika, Wahyu juga mengikuti pelatihan dari Program Peduli Yakkum sejak awal tahun ini. Dia mendapatkan informasi tentang barista inklusi dari media sosial. Dari situ dia kemudian mendaftar sebagai barista inklusi.

    Dokter memvonis Wahyu terkena cerebral palsy sejak umur 6 tahun. Dia mengalami kejang saat berumur 5 tahun. Dia terus berjuang untuk berdaya. Sebelum menjadi barista inklusi, lelaki asal Kecamatan Sedayu, Bantul ini bekerja sebagai tukang reparasi ponsel. Dia belajar dari pusat rehabilitasi Dinas Sosial.

    Barista kopi memberi pengalaman menarik buatnya sebagai penyuka kopi. Wahyu bahkan sempat membuka warung kopi kecil-kecilan di rumahnya. Dia menjual kopi murni itu Rp 10 ribu per gelas. Tapi, konsumen di desanya menggap kampung harga itu terlalu mahal. "Saya sedih karena banyak yang lebih memilih kopi sachetan atau kemasan. Padahal, Indonesia penghasil kopi dan melimpah," kata Wahyu.

    Seorang penyandang disabilitas bipolar, Aska Wijaya Hutapea menyebutkan kegiatan barista inklusi membantunya untuk percaya diri. Dari kegiatan itulah dia bisa belajar meramu kopi dari hasil sulingan di rumah. Aska yang masih rutin minum obat merasa kegiatan itu berdampak positif untuk hidupnya. Dia divonis menderita bipolar sejak usia 18 tahub. Saat itu dia menjadi tidak percaya diri ketika berkawan dengan teman sebaya yang kerap mengejeknya. Kini usia Aska 21 tahun dan dia merasakan perbedaan setelah mengikuti pelatihan dan menjadi barista inklusi "Saya bercita-cita membuka kafe kopi," kata Aska.

    Project Officer Program Peduli Yakkun, Rosana Yuditia Ripi menjelaskan barista inklusi muncul setelah melihat kegemaran anak muda minum kopi. Kafe-kafe yang menyajikan kopi di Yogyakarta semakin menjamur. "Kami kemudian berpikir tentang disabilitas dan minoritas," kata Rosana.

    Barista inklusi ada sejak 2017. Terdapat 14 barista yang bergabung. Semua kopi yang diseduh mereka datangkan khusus dari koperasi yang mengolah biji kopi. Koperasi itu membeli biji kopi dari Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta dan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

    Sebelumnya, Pusat Rehabilitasi Yakkum juga menaungi Cupable atau Cups for Empowering Disable People. Cupable berkonsep kafe, merupakan rumah untuk anak-anak muda menikmati kopi, belajar isu disabilitas, dan inklusi sosial dengan cara yang populer. Di kafe tersebut, pengunjung bisa berdiskusi, melihat pameran foto, dan film. Kafe Cupable terletak di Jalan Kaliurang kilometer 13,5, Besi, Sleman.

    Baca: Mahasiswa Universitas Brawijaya Buat Kopi Buah Anti-Stroke

    Manajer Program Festival Benang Merah, Noviana menyebutkan pihaknya melibatkan barista inklusi karena menampung kalangan minoritas. Ada banyak kelompok minoritas yang mendapatkan ruang untuk berdaya, di antaranya kelompok penghayat kepercayaan, waria, dan difabel. "Inklusi bicara soal menyatukan dan merajut perbedaan dan keberagaman. Di festival ini mereka bertemu dan saling berdialog," kata Noviana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.