Uji Coba MRT, Berikut Saran dari Penyandang Disabilitas

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas berjaga di dekat eskalator di Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis 28 Februari 2019. Tahap awal pihak MRT melakukan uji coba pada 12 Maret untuk 4.000 orang kuotanya dan rencananya, uji coba berlangsung hingga 24 Maret 2019 dengan total penumpang yang diangkut mencapai 285.000 orang. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas berjaga di dekat eskalator di Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis 28 Februari 2019. Tahap awal pihak MRT melakukan uji coba pada 12 Maret untuk 4.000 orang kuotanya dan rencananya, uji coba berlangsung hingga 24 Maret 2019 dengan total penumpang yang diangkut mencapai 285.000 orang. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Uji coba MRT atau Mass Rapid Transit masih berlangsung hingga 24 Maret 2019. Jalur yang dibuka adalah dari Stasiun Lebakbulus hingga Stasiun Bundaran Hotel Indonesia. Pada Sabtu, 16 Maret 2019, MRT memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk menjajal moda transportasi beru itu lewat komunitas Jakarta Barrier Free Tourism atau JBFT. Sekitar 120 penyandang disabilitas, 24 diantaranya adalah pengguna kursi roda yang mengikuti uji coba MRT.

    Baca: Kala Iriana Jokowi dan Istri Jusuf Kalla Merasakan Berdiri di MRT

    Stasiun MRT Lebak bulus terletak sekitar 100 meter dari pintu parkir Transmart Lebakbulus, Jakarta Selatan. Selama masa uji coba ini, pengguna MRT dari wilayah komuter seperti Depok atau Tanggerang, dapat memarkir kendaraan pribadinya di lahan parkir Transmart atau pusat perbelanjaan Poin Square. Masuk ke dalam stasiun, pengguna MRT bisa memanfaatkan eskalator yang membawa ke lantai tempat penjualan tiket. Di lantai yang sama, pengguna MRT dapat menunggu kereta kapsul tersebut datang. Jarak kedatangan antar MRT sekitar 10 - 15 menit.

    Suasana di dalam stasiun tidak terlalu padat. Ruang publiknya cukup aman bagi penyandang disabilitas untuk melakukan mobilitas. Meski terdapat eskalator, lift yang ada di dalam stasiun MRT Lebak bulus belum bisa beroperasi. Lantaran itulah, Stasiun Lebakbulus belum bisa terakses penumpang disabilitas pengguna kursi roda. Untuk keamanan, terdapat pembatas antara peron dengan jalur MRT. Pembatas ini berupa dinding transparan, sehingga pengguna dapat melihat kedatangan dan keberangkatan MRT.

    Selain pembatas transparan, hampir di setiap gerbong ada petugas yang membantu pengguna dengan disabilitas ketika naik atau turun. Petugas juga aktif memingatkan pengguna agar berdiri 30 sentimeter di belakang garis pembatas. Suasana di dalam stasiun cukup nyaman dan penyejuk udara beroperasi dengan baik. Hanya saja masih banyak bagian yang ditutup karena belum selesai pengerjaannya.

    Masyarakat datang ke Stasiun Bundaran HI untuk uji coba MRT Jakarta pada Sabtu 16 Maret 2019. Tempo/Imam Hamdi

    Stasiun Lebakbulus sudah dilengkapi lantai timbul atau guiding block untuk tunanetra. Sayangnya, lantai tersebut belum terintegrasi dengan baik. Masih banyak bagian guiding block yang terputus sehingga membuat arah langkah tunanetra menjadi tak jelas. Tidak ada perbedaan tinggi antara lantai peron dengan gerbong. Meski begitu, ada sedikit jarak antara lantai gerbong dan peron yang membuat lubang selebar 4 jari. "Mungkin selebar sepatu kets, kalau tidak waspada bisa tersandung," ujar Hendra, 36 tahun, penumpang asal Jakarta Timur.

    Kursi di dalam gerbong berkapasitas kurang lebih 40 orang. Di dua gerbong terakhir terdapat ruang bagi pengguna kursi roda. Sayangnya, di tempat kursi roda ini belum tersedia sabuk pengaman. Sabuk ini berfungsi untuk menahan kursi roda agar stabil selama MRT mulai berjalan, saat melaju, atau berhenti. "Saya masih harus menahan dengan kedua tangan saya agar roda tidak ikut bergerak ketika mulai jalan," ujar seorang pengguna kursi roda, Rade Bunga.

    Baca juga:
    Sepekan Uji Coba MRT Jakarta, Ini Paling Banyak Dikeluhkan Warga

    Pengguna MRT tunanetra, Taufik Zulfikri menilai suara pemberitahuan stasiun tujuan kurang jelas. Akibatnya, penumpang disabilitas netra berpotensi tersesat. "Kami, tidak tahu harus turun di mana dan sedang berada di mana,"ujar Taufik. Pengguna MRT dari insan tuli, Rachmita Harahap mengatakan perlu tambahan papan informasi yang mudah terlihat. Informasi itu berupa jadwal keberangkatan, kedatangan disertai jalur MRT. Dia juga menilai perlu simbol lampu dengan warna kontras maupun simbol disabilitas yang jelas di beberapa sudut.

    Perjalanan dari Stasiun Lebak Bulus menuju Stasiun Bundaran HI menghabiskan waktu sekitar 30 menit, dengan lama pemberhentian di setiap stasiun sekitar 2 menit. Ada 13 titik pemberhentian yang dilewati MRT, di antaranya Stasiun Fatmawati, Cipete, Haji Nawi, Blok A, Blok M, ASEAN, Bundaran Senayan, Gelora Bung Karno - Mandiri, Bendungan Hilir, Dukuh Atas dan Bundaran HI.

    Stasiun Bundaran HI terletak tepat di depan Hotel Pullman. Di stasiun ini tersedia lift bagi manula, ibu hamil, dan penyandang disabilitas yang siap pakai. Keluar dari lift, pengguna dapat langsung menemukan ramp, bidang miring yang mengarah ke trotoar di depan Hotel Pulmann. Stasiun MRT di Bundaran HI memiliki beberapa lorong bawah tanah yang terintegrasi dengan halte Transjakarta. Terdapat toilet yang juga ramah bagi penumpang disabilitas, seperti tersedianya ramp dan toilet yang cukup luas untuk manuver kursi roda.

    Artikel terkait: Uji Coba MRT, Kritik Warga: di Dalam Bagus, Begitu Keluar ...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.