Rabu, 17 Oktober 2018

Pembukaan Asian Para Games 2018, Ada Bahasa Isyarat Asal Bali

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Defile kontingen Indonesia berjalan saat Upacara Pembukaan Asian Para Games 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Sabtu, 6 Oktober 2018. ANTARA

    Defile kontingen Indonesia berjalan saat Upacara Pembukaan Asian Para Games 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Sabtu, 6 Oktober 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembukaan Asian Para Games 2018 berlangsung pada Sabtu malam, 6 Oktober 2018 di Gelora Bung Karno. Di acara tersebut terdapat salah satu bahasa isyarat yang tumbuh secara alami di Desa Bengkala, Buleleng, Bali. Di desa inilah jumlah komunitas Tuli terbesar di dunia berada.

    Baca:
    Pembukaan Asian Para Games 2018, Ada Penari Tunarungu tanpa Musik

    Penduduk di desa ini tidak menggunakan bahasa isyrat yang lazim dipakai insan Tuli Indonesia. Mereka menggunakan bahasa isyarat bernama Kolog. Bahasa ini berkembang secara alami melalui pergaulan sosial.

    "Struktur dan kosa katanya sangat berbeda dengan Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia), dan hampir tidak dapat dimengerti oleh sesama insan Tuli,” ujar peneliti bahasa isyarat dari Laboratorium Bahasa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Kusumo Adi Baroto, saat dihubungi Tempo, Sabtu 6 Oktober 2018.

    Menurut Adi, penduduk Desa Bengkala memiliki ekspresi sendiri dalam melafalkan bahasa isyarat. Dia mencontohkan, gerakan isyarat pada kata ‘makan’ dalam Bahasa Kolog berbeda dengan Bisindo atau SIBI.

    Para warga yang berpartisipasi untuk belajar bahasa isyarat di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat (13/04). TEMPO/Dasril Roszandi

    "Ekspresi kata makan pada bahasa Kolog membuat gerakan tangan seperti mencomot sesuatu lalu dimasukkan ke mulut,” ujar Adi. Sedangkan kata ‘makan’ pada Bisindo diekspresikan dengan gerakan makan memakai sendok dan garpu.

    Bahasa kolog ditemukan pada 1975 di Desa Bengkala yang 80 persen penduduknya tuli. Mengalir sebagai bahasa alami, keberadaan bahasa isyarat ini hampir punah. Hingga kini belum diketahui penyebab sebagian besar warga Besa Bengkala mengalami ketulian.

    “Kalau secara genetis rasanya tidak terlalu berpengaruh, sebab ada penduduk yang menikah sesama penduduk Tuli, tapi anaknya tidak Tuli," ujar ahli audio vestibular dari RS Premiere Bintaro, Siti Faiza. "Namun ada pula yang menikah dari luar desa anaknya ada yang Tuli dan ada yang tidak.”

    Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan dari Universitas Indonesia ini takjub dengan cara komunikasi warga Desa Bengkala. Selain memakai bahasa isyarat, mereka Desa Bengkala juga menggunakan papan tulis untuk berkomunikasi secara inklusif.

    Artikel lainnya:
    Pembukaan Asian Para Games 2018: We Are One


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Suap Izin Meikarta

    KPK menetapkan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai tersangka dugaan kasus suap izin proyek pembangunan Meikarta. Ini sekilas fakta kasus itu.