Senin, 17 Desember 2018

Kisah Tunanetra di Dalam Kontainer yang Selamat dari Tsunami Palu

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menghadiri pemakaman jenazah para korban gempa dan tsunami Palu di tampat pemakaman massal Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Senin, 1 Oktober 2018. Pemakaman ini dilakukan untuk jenazah yang sudah diidentifikasi dan dicatat pihak kepolisian. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Warga menghadiri pemakaman jenazah para korban gempa dan tsunami Palu di tampat pemakaman massal Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Senin, 1 Oktober 2018. Pemakaman ini dilakukan untuk jenazah yang sudah diidentifikasi dan dicatat pihak kepolisian. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Gelombang tsunami Palu, Sulawesi Tengah yang terjadi pada Jumat, 28 September 2018 mengakibatkan ribuan orang meninggal. Seorang warga Kota Palu, Elias Katapi, 45 tahun, menceritakan bagaimana dia menyelamatkan diri saat bencana itu terjadi.

    Baca juga:
    Cerita Jokowi tentang Situasi Seusai Gempa dan Tsunami Palu

    Elias yang menyandang tunanetra mengatakan pada Jumat petang dia sedang berada di pinggir Pantai Talise untuk menghadiri pameran karya disabilitas yang diadakan Kementerian Perindustrian. Saat gempa berkekuatan 8,4 magnitudo terjadi, dia berada di dalam sebuah kontainer.

    “Saya mau menggelar kain untuk istirahat sejenak. Tiba-tiba ada guncangan yang membuat saya terlempar-lempar di dalam kontainer,” ujar Elias Katapi, warga Jalan Anoa yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Pantai Talise, kepada Tempo, Selasa 2 Oktober 2018.

    Di saat genting itu, Elias mendengar teriakan dari Anto, penyintasnya. Anto meminta Elias segera keluar dari kontainer karena ada peringatan potensi tsunami. "Anto bilang kepada saya, kalau dia melihat ombak besar bergulung ke arah pantai,” ujar Elias. Dengan tubuh yang masih kesakitan karena terguncang-guncang di dalam kontainer, Elias berusaha mencari jalan keluar. Dia kesulitan memencari pintu karena kontainer itu dirasa terbalik saat gempa. Untungnya, Anto berhasil menarik Elias keluar.

    Inilah Pantai Talise yang terletak 2 kilometer sebelah utara Kota Palu, yang luluh lantak diguncang gempa dan diterjang tsunami Jumat, 28 September 2018. TEMPO/SYAFIUL HADI

    "Anto membawa saya naik sepeda motor dan dia menyetir terburu-buru sekali. Saya merasa jalanan sudah padat,” ujar Elias. Akibat jalanan yang penuh sesak, beberapa kali lengan Elias menyenggol kendaraan yang juga terburu-buru mencari tempat aman. Tujuan pertama Elias berlindung adalah Taman Silae. Namun dalam beberapa menit, Elias merasa Anto membawanya menuju tempat lain. “Dua jam kemudian, saya baru tahu kalau Taman Silae itu sudah terendam," ucap Elias.

    Anto lantas membawa Elias ke tempat aman lainnya, yakni di sebuah tanah lapang di Jalan Tanjung Api, Desa Lolu, Palu Selatan. Hingga berita diturunkan, Elias masih mengungsi di sana bersama ratusan masyarakat Palu lainnya. “Saya mengkhawatirkan keadaan Anto. Dia belum bisa dihubungi sampai sekarang," kata Elias. "Setelah mengantar saya, Anto turun lagi mencari orang tuanya yang juga tunanetra."

    Elias yang juga Ketua Dewan Perwakilan Daerah atau DPD Persatuan Tunanetra Indonesia atau Pertuni Sulawesi Tengah ini juga mengkhawatirkan keadaan penyandang disabilitas lainnya. Sebab saat tsunami terjadi, para penyandang disabilitas sedang mengadakan pameran kerajinan tangan di pinggir pantai. "Hingga kini sebagian dari mereka belum bisa dihubungi. Saya berharap mereka semua selamat dan dapat berkumpul kembali dengan keluarganya,” kata Elias.

    Artikel lainnya:
    Dua Kabupaten yang Tertimbun Tanah Akibat Tsunami Palu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".