Cerita Manajer Dheva Anrimusthi, Atlet Peraih Perak Paralimpiade Tokyo 2020

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi pebulutangkis Indonesia, Dheva Anrimusthi saat berusaha mengembalikan shuttlecock ke arah lawannya dalam pertandingan Grup A para badminton tunggal Paralimpiade Tokyo di Yoyogi National Stadium, Jepang, 3 September 2021. Dalam laga tersebut, Dheva menang atas wakil Polandia, Bartlomiej Mroz dengan skor 21-17 dan 21-7. REUTERS/Thomas Peter

    Aksi pebulutangkis Indonesia, Dheva Anrimusthi saat berusaha mengembalikan shuttlecock ke arah lawannya dalam pertandingan Grup A para badminton tunggal Paralimpiade Tokyo di Yoyogi National Stadium, Jepang, 3 September 2021. Dalam laga tersebut, Dheva menang atas wakil Polandia, Bartlomiej Mroz dengan skor 21-17 dan 21-7. REUTERS/Thomas Peter

    TEMPO.CO, Bandung - Atlet Dheva Anrimusthi mengukir prestasi dunia. Pemain bulu tangkis berusia 22 tahun itu memberikan medali perak untuk Indonesia di ajang Paralimpiade Tokyo 2020 pada 5 September 2021.

    "Dia baru pertama kali ikut Paralimpiade yang sekarang," kata Ma’sum Husain, manajer Dheva Anrimusthi di Perkumpulan bulu tangkis Sangkuriang Graha Sarana (PB SGS) Bandung, Selasa 7 September 2021. Menurut Ma’sum, medali perak kini menjadi prestasi terbaiknya di kelompok pebulu tangkis disabilitas tubuh bagian atas.

    Pada laga final, dia melihat anak asuhnya itu bisa lebih unggul dari lawannya. “Saya lihat dia agak tegang, jadi tidak lepas mainnya,” ujarnya. Biasanya Dheva mampu mengendalikan lawan ketika bertanding, namun yang terjadi sebaliknya. Walau begitu, kata Ma’sum, Dheva masih punya kesempatan yang panjang untuk tampil lagi dan meraih medali emas di ajang paralimpiade berikutnya karena usianya masih muda.

    Atlet kelahiran Kuningan, Jawa Barat, pada 5 Desember 1998 itu berlatih bulu tangkis sejak kelas 2 Sekolah Dasar. Dheva mengalami kecelakaan sepeda motor saat remaja. Tangan kanannya tidak bisa diluruskan atau tertekuk permanen. Kondisi itu membuatnya mundur dari klub bulu tangkis. Ketika ingin berlatih lagi, beberapa klub bulu tangkis menolaknya.

    Aksi pebulutangkis Indonesia, Dheva Anrimusthi saat berusaha mengembalikan shuttlecock ke arah lawannya dalam pertandingan Grup A para badminton tunggal Paralimpiade Tokyo di Yoyogi National Stadium, Jepang, 3 September 2021. Selain menjadi juara Grup A, Dheva juga berhasil lolos ke partai semifinal. REUTERS/Thomas Peter

    Ma’sum yang juga Sekretaris Umum PB SGS-PLN Bandung, menyilakan Dheva berlatih. Klub itu punya kuota lima persen dari total pemain yang dilatih bagi penyandang disabilitas. Dheva turut serta dalam turnamen umum di kejuaraan bulu tangkis provinsi hingga nasional. Di ajang Sirkuit Nasional pada 2015 di Surabaya, namanya masuk dalam 8 besar pemain.

    National Paralympic Commite atau NPC mengajak Dheva Anrimusthi bergabung pada 2016. Orang tuanya sempat keberatan karena tidak ingin anaknya dianggap disabilitas. Setelah mendapatkan izin, Dheva membuktikan kemampuannya di kejuaraan dengan meraih tiga medali emas di sektor tunggal perorangan putra di kategori tangan kanan, ganda putra, dan beregu. "Tangan kanannya itu yang dipakai memegang raket," kata Ma’sum.

    Selanjutnya, Dheva Anrimusthi masuk pemusatan latihan nasional di NPC dan mewakili Indonesia di kejuaraan Para Games Malaysia 2017 kemudian ASEAN Para Games di Palembang dan Jakarta 2018. Torehan prestasi terbaiknya saat ini adalah medali perak di Paralimpiade Tokyo 2020.

    Baca juga:
    Badminton Paralimpiade Tokyo: Dheva Anrimusthi Raih Medali Perak, Suryo Perunggu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.