Remaja Difabel Akhirnya Bisa Magang di Kebun Binatang, Berkat Kegigihan Sang Ibu

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi difabel. Shutterstock

    Ilustrasi difabel. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Memberikan pemahaman tentang isu disabilitas kepada remaja dapat berlangsung di luar lingkup formal, seperti sekolah atau organisasi. Di Toledo, Ohio, Amerika Seerikat, pengelola kebun binatang bekerja sama dengan organisasi difabel mewujudkan program kerja sukarela satu remaja disabilitas dan remaja non-disabilitas dalam mengenalkan seluk beluk kebun binatang.

    Program bernama Zoo Teens ADAPT ini berlaku di kebun binatang Toledo sejak tiga tahun lalu. Program tersebut memasangkan remaja non-disabilitas dengan remaja disabilitas sebagai bagian tugas sukarelawan di sekolah. Tahun ini, terdapat 46 remaja yang berpartisipasi dalam program itu.

    "Menemukan pengalaman hidup yang bermakna, kaya, dan berharga selalu menjadi alasan bagi para remaja dalam mengikuti program ini," kata Bill Davis, Direktur Relawan untuk Kebun Binatang Toledo, seperti dikutip dari situs Disability Scoop, Jumat 25 Juni 2021.

    Program Zoo Teens ADAPT berawal dari inisiatif seorang ibu yang memiliki putra dengan Autisme pada 2018. Dia berulang kali menghubungi pengelola kebun binatang Toledo untuk meminta jasa pendampingan bagi putranya yang juga ingin melakukan tugas sukarela di kebun binatang.

    ADVERTISEMENT

    Awalnya, anak tersebut tidak lolos dalam tes wawancara magang di kebun binatang karena pengelola menyatakan tidak dapat memenuhi akomodasi atau kebutuhan relawan dengan disabilitas. "Ibunya kemudian menelepon tak lama setelah wawancara. Dia sangat baik memberitahu kami memahami apa saja kebutuhan putranya dan remaja difabel pada umumnya," kata Davis.

    Respons ibu dari anak Autistik tersebut begitu mencerahkan. Alih-alih marah karena anaknya tidak diterima menjadi relawan kebun binatang, ibu tersebut memberikan segala pengetahuan yang dia miliki kepada pengelola kebun binatang dan menjadikan tempat rekreasi itu ramah difabel.

    Tahun berikutnya, remaja penyandang disabilitas ini menjadi orang pertama yang bergabung dalam program percontohan. Saat itu, sebanyak 36 remaja difabel dan non-disabilitas dipasangkan. Inilah yang disebut mitra dukungan sebaya.

    Dalam program tersebut, sebanyak sepuluh pasangan remaja relawan terbukti mampu berinteraksi dan berkolaborasi tanpa pengawasan. Mereka berkontribusi, tidak hanya dalam membuka aksesibilitas bagi remaja difabel, namun juga menyumbangkan berkarya dengan lebih dari 360 jam sukarela.

    "Mereka melakukan semua yang dapat dikerjakan remaja pada umumnya ketika melakukan kerja sukarela di kebun binatang," kata Kevin Fong, pengawas aksesibilitas sukarelawan Kebun Binatang Toledo. Dalam program ini, para remaja menjalani pelatihan yang sama dengan staf kebun binatang.

    Mereka mengenali kebutuhan dan cara mendapingi pengunjung dengan disabilitas. Pengelola kebun binatang juga menyediakan perlengkapan pendukung untuk menunjang remaja difabel selama bekerja sukarela.

    Baca juga:
    Difabel Bisa Punya SIM, Ini Syarat yang Diperlukan Buat SIM D


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?