Didiagnosa Bakal Jadi Difabel, Lakukan 5 Cara Ini Supaya Lebih Siap

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penyandang disabilitas atau difabel. REUTERS | Rafael Marchante

    Ilustrasi penyandang disabilitas atau difabel. REUTERS | Rafael Marchante

    TEMPO.CO, Jakarta - Kesehatan adalah komponen dalam hidup manusia yang paling berharga. Namun ada beberapa individu yang terdiagnosa berpotensi mengalami kondisi disabilitas atau menjadi difabel di kemudian hari. Tentu tidak semua orang siap menghadapi dan menjalani situasi tersebut.

    Mengutip situs kesehatan Baby Boomers, ada beberapa kondisi yang perlu diantisipasi jika seseorang terdiagnosa berpotensi mengalami kondisi disabilitas. Berikut ini cara yang dapat dilakukan:

    1. Mengenali dan menerima keadaan
    Akan lebih baik jika kamu dapat mengetahui kondisi kesehatan yang berpotensi mengubah seluruh hidupmu. Dengan begitu, kamu bisa mencegah atau bersiap menghadapi segala kemungkinan. Yang penting, beri waktu kepada diri sendiri untuk memahami diagnosis dan situasi yang terjadi.

    Jangan memendam emosi dan merasa sendiri. Sebaliknya, berbagilah kepada orang yang dianggap tepat dan menangislah bila perlu menangis. Jika perasaan takut atau khawatir malah dipendam, perasaan itu dapat menumpuk di dalam diri, membusuk, dan pada akhirnya memperburuk kesehatan fisik serta psikis.

    2. Mengelola stres
    Stres adalah penyebab utama penyakit semakin menjadi. Jika sudah masuk fase depresi, maka butuh batuan profesional untuk mengatasi gangguan kesehatan mental. Artinya, harus pandai mengelola stres, membuang berbagai potensi pemicu tekanan, termasuk diagnosa potensi kedisabilitasan. Hindari paparan informasi yang belum jelas kebenarannya, termasuk informasi yang membuat frustrasi atau rendah diri.

    3. Membangun komunikasi yang terbuka dengan perusahaan
    Salah satu kekhawatiran terbesar saat seseorang didagnosa mengalami kondisi disabilitas adalah kehilangan pekerjaan. Kondisi ini dapat diantisipasi bila kedua pihak membangun keterbukaan dan komunikasi yang baik. Komunikasi ini terutama mengenai kebutuhan yang diperlukan dalam menunjang kegiatan dan kerja sehari-hari. Misalkan, perlunya ketersediaan aksesibilitas dan alat penunjang terakses di kantor.

    4. Hindari hubungan percintaan yang tidak sehat
    Salah satu masalah terbesar yang dihadapi penyandang disabilitas baru adalah hubungan percintaan yang tidak berjalan mulus. Kondisi yang tidak lagi sama sering memberikan persepsi berbeda baik bagi penyandang disabilitas baru maupun pasangannya.

    Saat sedang beradaptasi dengan kondisi yang benar-benar baru, maka kamu harus fokus dulu ke diri sendiri. Apabila pasanganmu tidak mendukung, sebaiknya hentikan hubungan karena justru bakal menguras tenaga pada hal yang tidak perlu. Jika kamu sudah siap dengan kondisi yang baru, belum tentu pasanganmu juga siap dengan itu. Dalam kondisi ini, sangat dianjurkan ada dukungan dari sahabat, keluarga atau kolega.

    5. Jangan terbawa masa lalu
    Fokuslah pada apa yang sedang dan akan dijalani. Musababnya, seseorang yang terdiagnosa berpotensi mengalami kondisi disabilitas acap kali menyesali hal yang pernah dilalui. Ingatlah, semua itu sudah selesai, sudah berlalu, dan bisa jadi tidak berimplikasi langsung sebagai penyebab kamu menjadi difabel. Jangan terlalu khawatir tentang masa depan, karena hanya akan menambah kekhawatiran dan stres.

    Baca juga:
    Cek Apa Saja Pedoman Kesetaraan Buat Difabel di Tempat Kerja


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.