Ibu Hamil Bipolar Wajib Memperhatikan Asupan Obat dan Kadar Garam

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ibu hamil. (Unsplash/Suhyeon Choi)

    Ilustrasi ibu hamil. (Unsplash/Suhyeon Choi)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ibu hamil penyandang bipolar berisiko kambuh empat kali lebih sering jika dalam kehamilannya berhenti mengkonsumsi obat-obatan bipolar. Namun di sisi lain, obat-obatan tersebut dikhawatirkan berisiko pada janin yang dikandungnya.

    "Ibu hamil dengan bipolar berisiko sakit tujuh kali lipat dibandingkan ibu hamil pada umumnya," kata dokter Smitha Bhandari seperti yang dikutip dari laman WebMD, Senin 8 Maret 2021. Dokter tidak menyarankan ibu hamil penyandang bipolar berhenti mengkonsumsi obat-obatan rutin secara mendadak karena dapat mengakibatkan efek yang lebih berbahaya bagi fisik dan psikis ibu.

    Smitha Bhandari menyatakan biasanya dokter tetap menyarankan ibu hamil dengan bipolar untuk mengkonsumsi obat tertentu, sekaligus menghentikan beberapa jenis obat. Menurut Bhandari, jalan tengah ini perlu ditempuh karena risiko kesehatan mental akibat penghentian pengobatan lebih besar ketimbang risiko yang belum diketahui.

    Salah satu jenis obat Bipolar yang relatif aman dikonsumsi selama masa kehamilan adalah jenis Lithium. Meski begitu, obat ini Lithium tak boleh dikonsumsi selama kehamilan trisemester pertama.

    ADVERTISEMENT

    Selain berkonsultasi dengan dokter mengenai jenis obat yang tetap diminum dan dihentikan, ibu hamil dengan bipolar juga sebaiknya banyak minum air mineral. Tujuannya, memantau asupan garam guna mencegah keracunan Lithium.

    "Periksalah kadar Lithium dalam darah secara teratur," kata Smitha Bhandari. Apabila ibu penyandang bipolar masih mengkonsumsi obat jenis Lithium sembari menyusui, pastikan dokter anak memeriksa kadar Lithium, hormon tiroid, dan fungsi ginjal bayi mulai dari usia satu bulan. Pemeriksaan kadar Lithium pada bayi dari ibu dengan bipolar yang mengkonsumsi obat jenis Lithium perlu dipantau secara berkala setiap 8 sampai 12 minggu.

    Mengutip laman Mayo Clinic, bipolar merupakan episode perubahan suasana hati secara ekstrem yang dapat terjadi dalam interval yang sangat jarang atau beberapa kali dalam setahun. Bipolar merupakan kondisi psikologis permanen yang gejalanya terdiri dari beberapa jenis, yaitu mania atau hipomania dan depresi.

    Penyandang bipolar dapat hidup berdampingan sembari menjalani pengobatan dan menerapkan manajemen stres yang baik. Bipolar memiliki gejala yang menetap seumur hidup. Sebab itu, bipolar termasuk salah satu jenis ragam disabilitas yang dikelompokkan ke dalam ragam disabilitas mental.

    WEB MD | MAYO CLINIC

    Baca juga:
    Demi Lovato Terbuka Tentang Gangguan Bipolar, Ternyata Kini Salah Diagnosis


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?