3 Tantangan yang Dihadapi Difabel Kursi Roda

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (dari kiri) Pendiri Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Rivera Roidatua; staf khusus Presiden Jokowi, Angkie Yudistia; Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Allaster Cox; konsultan disabilitas dan inklusi sosial, Bahrul Fuad; serta komposer dan pianis Ananda Sukarlan dalam acara Ask Me Anything di Kedutaan Australia, Jakarta, pada Selasa, 10 Desember 2019. Foto: Istimewa

    (dari kiri) Pendiri Koneksi Indonesia Inklusif, Marthella Rivera Roidatua; staf khusus Presiden Jokowi, Angkie Yudistia; Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Allaster Cox; konsultan disabilitas dan inklusi sosial, Bahrul Fuad; serta komposer dan pianis Ananda Sukarlan dalam acara Ask Me Anything di Kedutaan Australia, Jakarta, pada Selasa, 10 Desember 2019. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Difabel kursi roda, Bahrul Fuad menyampaikan tiga tantangan yang dihadapi pengguna kursi roda di era inklusi disabilitas. Tiga tantangan itu adalah aksesibilitas, kelangkaan kursi roda yang dapat dirancang sesuai kebutuhan, dan belum ada produsen kursi roda adaptif dari dalam negeri.

    "Untuk aksesibilitas, di Jakarta saja sebagai Ibu kota negara, masih banyak bangunan umum yang tidak ramah pengguna kursi roda, seperti stasiun KRL, jembatan penyeberangan orang, perkantoran pelayanan umum, tempat ibadah, kampus, dan fasilitas umum lainnya," ujar Bahrul Fuad yang juga anggota Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan pada Senin, 1 Maret 2021.

    Dia menyoroti salah satu bangunan penting yang sangat dekat dengan masyarakat. Jenis bangunan ini seharusnya menyediakan aksesibilitas bagi pengguna kursi roda, yaitu tempat ibadah. Menurut Bahrul, masih banyak masjid yang melarang pengguna kursi roda masuk karena roda pada kursi roda dianggap tidak suci.

    Tantangan kedua yang dihadapi pengguna kursi roda adalah kelangkaan kursi roda yang dapat dirancang sesuai kebutuhan penyandang disabilitas. Secara umum masyarakat hanya mengetahui bahwa kursi roda adalah kursi dengan roda yang tersedia di rumah sakit atau kursi roda yang dijual di toko peralatan kesehatan. "Kursi roda untuk penyandang disabilitas aktif seperti saya tentu berbeda," kata pria yang akrab disapa Cak Fu ini.

    Tantangan ketiga yang tidak dapat dihindari pengguna kursi roda adalah belum ada produsen kursi roda adaptif dalam negeri. Dengan begitu, kursi roda harus dipesan dan didatangkan dari luar negeri. Berbagai prosedur dan biaya antar-negara tentu membuat harga kursi roda adaptif lebih mahal dan belum tentu terjangkau oleh penyandang disabilitas yang menggunakannya.

    Bahrul mencontohkan, harga kursi roda adaptif dengan kualitas terendah dibanderol sekitar Rp 5 juta. Adapun kursi roda yang biasa dipakai dan memiliki kualitas cukup baik didatangkan dari Cina seharga Rp 15 juta. Mengenai masa pakai, Bahrul Fuad mengatakan kursi roda yang digunakan terus-menerus masih nyaman digunakan sekitar tiga sampai empat tahun. "Setelah periode itu, sudah terasa ada yang harus diperbaiki," ujar Bahrul.

    Baca juga:
    Kursi Roda Menjadi Simbol Kebebasan Penggunanya, Diperingati Setiap 1 Maret


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.