Mari Menari, Cara Difabel Intelektual Memahami Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak menari. minnesota.cbslocal.com

    Ilustrasi anak menari. minnesota.cbslocal.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Covid-19 telah mengubah kehidupan masyayarkat. Tak peduli kaya miskin, pejabat maupun rakyat jelatan, non-difabel atau difabel, semua harus menyesuaikan diri dengan berbagai kebiasaan baru untuk mencegah penyebaran virus corona.

    Di Kota Madrid, Spanyol, puluhan penyandang disabilitas mental intelektual mencoba belajar apa itu Covid-19 dengan cara menari. Koordinator aktivitas dari yayasan Madrid’s Alas Center for Women with Intellectual Disabilities, Concha Delgado mengatakan, bergerak atau membuat orang tetap aktif adalah kunci untuk mempertahankan semangat di masa pandemi Covid-19 ini.

    "Saya memberikan pemahaman tentang virus corona melalui gambar, bercerita, dan aktivitas yang menyenangkan lainnya," kata Delgado seperti dikutip dari Reuters pada Selasa, 8 Juli 2020. Rekan Delgado, Paula de la Rocha mengatakan sejak pandemi terjadi, sekitar 90 penyandang disabilitas yang terdaftar mendapat pelayanan dari yayasan, hanya delapan orang yang datang dalam terapi langsung.

    Menurut Paula, para penyandang disabilitas mental intelektual ini sejatinya ingin datang ke yayasan. Hanya saja, mereka menolak memakai masker dan menjalankan protokol kesehatan lainnya karena belum memahami pandemi yang sedang terjadi. "Akhirnya mereka mengikuti kelas terapi daring," katanya.

    Delgado dan Paula akhirnya mencari cara menyenangkan agar penyandang disabilitas memahami bahaya Covid-19. Mereka memperagakan tarian latin yang berisi panduan protokol kesehatan yang mesti ditiru dan dijalani.

    Seorang penyandang disabilitas intelektual yang mengikuti tarian itu melalui daring, Maricarmen Lara mengatakan mulai tahu apa yang harus dilakukan untuk mencegah penularan virus corona. Dia menirukan tarian lewat daring dan saat itulah terbersit rasa rindu untuk bertemu dengan teman-temannya di yayasan.

    "Saya berharap keadaan ini cepat berakhir agar saya bisa keluar rumah, memeluk, mencium teman-teman dan orang-orang yang saya cintai," kata Lara. Sementara difabel mental intelektual yang belajar menari di kantor yayasan akan mendapatkan aktivitas tambahan, seperti bermain teka-teki dan mendapat segelas jus buah di akhir kegiatan.

    MUHAMMAD AMINULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proses Pembuatan Vaksin Virus Corona Dibanding Klaim Obat Hadi Pranoto

    Hadi Pranoto mengklaim obat herbal Antibodi Covid-19 berbeda dengan vaksin virus corona. Proses pembuatan vaksin memakan waktu setidaknya 12 bulan.