Tips Tunanetra Mandiri di Luar Negeri dari Komika Blindman Jack

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komika Blindman Jack atau Zaka Ahmad bersepeda bersama istrinya. Foto: Istimewa

    Komika Blindman Jack atau Zaka Ahmad bersepeda bersama istrinya. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Komika Blindmand Jack berbagi tips bertahan hidup di luar negeri bagi tunanetra. Pria bernama lengkap Zaka Ahmad pernah tinggal di Adelaide, Australia Selatan, saat menerima beasiswa Australia Awards 2013 dan lulus Master of Social Work dari Flinders University.

    Baca: Cara Komika Zaka Ahmad atau Blindman Jack Angkat Isu Disabilitas

    "Waktu itu ibu saya hanya menemani selama satu bulan. Kemudian dia balik ke Indonesia dan saya mulai hidup sendiri di Australia," ujar Zaka Ahmad kepada Tempo, Kamis 23 April 2020. Hidup sendiri bukan berarti dia tak dapat melakukan apapun di Negeri Kangguru tersebut. Zaka Ahmad tetap keluar rumah, misalnya berjalan sendiri ke mall atau sekadar beristirahat di taman.

    Zaka Ahmad terlahir dapat melihat. Dia kemudian mengalami Retinitis Pigmentosa yang merenggut kemampuan penglihatannya saat berusia 27 tahun. Belum ada obat untuk kelainan pigmentasi pada retina ini.

    Komika tunanetra Blindman Jack atau Zaka Ahmad berfoto bersama Indro Warkop. Pria yang biasa disapa Jack ini memilih jalur stand up comedy sebagai sarana advokasi berbagai isu disabilitas. Foto: Istimewa

    Berikut tips bergaul secara inklusif di luar negeri menurut Blindman Jack.

    1. Kesetaraan penyandang disabilitas
      Masyarakat Australia, menurut Blindman Jack, menganggap penyandang disabilitas setara dengan non-difavel. Karena itu, jangan khawatir bertanya atau meminta kepada orang di sekitar mengenai bentuk pertolongan yang dibutuhkan. "Jadi sebaiknya jangan sungkan bertanya atau meminta kepada teman sekelas atau tetangga," ujar Zaka.

    2. Titip atau janjian
      Membeli sesuatu dengan cara menitip atau membuat janji dengan teman secara bergantian. Bila memerlukan suatu barang, Zaka akan bertanya kepada teman yang akan berangkat ke toko atau pasar. Dia juga tidak meminta tolong kepada satu orang saja, melainkan teman lainnya secara bergantian. "Ini kesempatan kita untuk memperkenalkan konsep inklusif kepada teman," kata dia.

      Kendati sesekali bisa menitip belanjaan, Zaka juga kerap ikut pergi ke pasar dengan cara janjian di tempat berbelanja. Dia punya tempat favorit untuk bertemu dengan teman-temannya. "Cari titik yang mudah terlihat atau dikenali," kata Zaka.

    3. Jasa pendamping untuk kuliah
      Zaka memilih melakukan kegiatan sehari-hari, seperti memasak dan bebersih tempat tinggal, secara mandiri. Dia juga melakukan mobilitas sendiri ke kampus. Zaka hanya menggunakan jasa pendamping untuk kegiatan belajar. Misalnya, saat harus mengakses buku bacaan atau jurnal yang tidak tersedia dalam bentuk digital.

    4. Hafal lokasi berdasarkan landmark
      Zaka Ahmad memiliki orientasi dan mobilitas yang cukup baik. Hanya dalam waktu dua pekan dia dapat menghapal berbagai macam landmark dari tempat tinggalnya menuju kampus. "Di Australia, semua landmark ditempatkan secara teratur dan lokasinya jelas, sehingga mudah dihapalkan," katanya.

      Jika mengalami kesulitan, minta pendamping untuk mengajarkan, misalnya mengenal tanda ke halte kendaraan umum dan ruangan kampus. Bila harus berganti ruang belajar di dalam kampus, Zaka menyarankan, jangan ragu bertanya dan berangkat bersama teman sekelas, sambil menghapal landmark.

    5. Memasak sendiri
      Zaka memilih memasak sendiri di rumah agar mudah mendapatkan makanan yang sesuai selera dan lebih hemat. Menurut Zaka, jenis makanan yang mudah diolah penyandang disabilitas netra adalah tumis sayur yang mudah didapat di pasar.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.