Kendala Siswa Berkebutuhan Khusus Saat Belajar dari Rumah

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa belajar melalui saluran TVRI di rumah di Jakarta, Senin, 13 April 2020. Sejak 16 Maret 2020, siswa dari tingkat SD, SMP, SMA hingga mahasiswa belajar dari rumah akibat pandemi wabah virus corona Covid-19. TEMPO/Subekti.

    Siswa belajar melalui saluran TVRI di rumah di Jakarta, Senin, 13 April 2020. Sejak 16 Maret 2020, siswa dari tingkat SD, SMP, SMA hingga mahasiswa belajar dari rumah akibat pandemi wabah virus corona Covid-19. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Memberikan materi pelajaran secara online kepada siswa berkebutuhan khusus menjadi tantangan bagi guru, orang tua, dan pendamping. Selama wabah corona terjadi, kegiatan sekolah dialihkan menjadi belajar dari rumah.

    Seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kuntum Mekar 01, Jakarta, Nugrah Henilya Atmadja mengatakan peran orang tua atau pendamping menjadi kunci sukses penyampaian materi pelajaran kepada siswa berkebutuhan khusus selama belajar dari rumah. "Perhatian orang tua diharapkan jangan sampai luput karena mereka juga harus mengerjakan pekerjaan rumah atau bekerja dari rumah," ujar Nugrah saat dihubungi Tempo, Selasa 14 April 2020.

    Nugrah Henilya mencontohkan saat dia memberikan hasil pindai materi dari buku pelajaran untuk siswa tunarungu melalui pesan instan kepada orang tua siswa, terkadang orang tua lupa menyampaikan tugas tersebut kepada anaknya. Kondisi ini terjadi biasanya karena orang tua sibuk melaksanakan pekerjaan rumah tangga atau orang tua juga bekerja dari rumah.

    Adapun siswa tunanetra memiliki kendala yang berbeda saat melaksanakan kegiatan belajar dari rumah. Musababnya, hasil tugas dikumpulkan dalam bentuk hard copy dan dipindai. "Mereka harus datang ke tempat bimbingan belajar sekadar mencetak tugas, memindainya, lalu pulang," kata Sofyan Sukmana, Guru Komputer dari Bimbingan Belajar Lentera Inklusif. "Konsekuensinya, physical distancing dan belajar secara virtual tidak benar-benar diterapkan."

    Materi online untuk siswa berkebutuhan khusus yang duduk di kelas I sekolah dasar juga membuat guru dan orang tua harus mencari cara agar ilmu tersampaikan. Musababnya, pada tingkatan ini banyak siswa yang membutuhkan alat peraga untuk memperkuat konsep dasar mata pelajaran.

    Guru dari Sekolah Luar Biasa atau SLB Negeri 04, Jakarta, Fajar Risbianto mengatakan anak-anak dengan disabilitas netra membutuhkan benda, seperti kelereng dan benda lain yang dapat dipegang untuk belajar berhitung. Lantaran menggunakan alat peraga, maka proses belajar secara online tidak dapat diterapkan secara mutlak kepada siswa tunanetra.

    "Karena itu, harus ada pendamping saat mereka mengikuti mata pelajaran matematika secara online," kata Fajar Risbianto. "Home learning itu memang seperti dua sisi mata uang. Ada sisi yang memberikan dampak positi, tapi juga ada sisi kurangnya."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.