Sebab Penyandang Disabilitas Baru Butuh Pendampingan Psikologis

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penyandang disabilitas atau difabel. Shutterstock

    Ilustrasi penyandang disabilitas atau difabel. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Menghadapi kondisi disabilitas baru saat dewasa kerap membuat seorang penyandang disabilitas mengalami stress. Kondisi ini rawan dan pada beberapa kasus bisa jadi berujung ke tindakan percobaan bunuh diri.

    Salah seorang penyandang disabilitas dewasa yang pernah mencoba bunuh diri adalah Heather Kerstetter. Perempuan 30 tahun asal Amerika Serikat, ini didiagnosa mengalami spinal muscular atrophy tipe tiga. Baru-baru ini dia menyampaikan apa yang terjadi mengenai kondisinya.

    "Waktu itu adalah momen terberat dan tergelap dalam hidupku," ujar Kerstetter seperti dikutip dari Healthline, Jumat 7 Februari 2020. Menurut dia, orang yang mengalami disabilitas saat dewasa sebaiknya langsung diarahkan ke klinik psikiatri atau komunitas yang dapat melakukan pendampingan.

    Hanya saja, Krestetter melanjutkan, banyak klinik psikiatri yang belum siap menerima pasien dengan disabilitas sensorik dan motorik. "Saat saya divonis harus menggunakan kursi roda, dokter berasumsi stress adalah kondisi biasa yang saya hadapi sebagai penyandang disabilitas baru dan tidak perlu penanganan khusus. Padahal saya sangat membutuhkan konsultasi," kata Kerstetter.

    Satu jam setelah mengajukan permohonan pemeriksaan psikologi dan pendampingan, Kerstetter malah dipulangkan ke rumah. Peristiwa yang terjadi berikutnya, Kerstetter tidak makan selama seminggu, tidak mandi, dan ditemukan oleh keluarganya dalam keadaan tak sadarkan diri.

    Advokat spesialis disabilitas dari National Disability Rights Network, Ian Watlington mengatakan paramedis harus tanggap dan segera memberi rujukan konsultasi psikologi sebelum penyandang disabilitas baru merasa stress. "Sangat sulit menggambarkan keadaan pertama kali menjadi disabilitas kepada orang awam," ujar Watlington.

    Profesor kesehatan masyarakat dari Harvard Medical School, Lisa Iezzoni mengatakan satu-satunya halangan dokter memberi rujukan pasien disabilitas kepada dokter dari spesialisasi keilmuan lain adalah ketiadaan akses. Dia mencontohkan, tidak ada paramedis yang membantu dokter untuk mengarahkan atau mengantar pasien ke dokter spesialis lain.

    "Satu-satunya solusi adalah dokter harus meluangkan waktu dan energi untuk memberikan rujukan, sekaligus mengantar pasien dengan disabilitas ke dokter spesialis lain," ujarnya. Iezzoni juga menyarankan dokter harus menyediakan minimal satu atau dua petugas medis untuk menyediakan akses bagi pasien disabilitas ke psikiatri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.