Difabel Ikut Simulasi Bencana di Refleksi Gempa dan Tsunami Aceh

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyandang disabilitas mengikuti simulasi bencana untuk memperingati 15 tahun gempa dan tsunami Aceh pada Rabu, 25 Desember 2019. Antaranews

    Penyandang disabilitas mengikuti simulasi bencana untuk memperingati 15 tahun gempa dan tsunami Aceh pada Rabu, 25 Desember 2019. Antaranews

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekitar lima puluh penyandang disabilitas mengikuti simulasi bencana di Kampus Universitas Iskandar Muda, Banda Aceh, Rabu 25 Desember 2019. Simulasi ini digelar dalam peringatan 15 tahun gempa dan tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004.

    Ketika simulasi dimulai, difabel netra, pengguna kursi roda dan yang memakai tongkat dipandu ke luar gedung kampus menuju ruang terbuka yang menjadi titik kumpul. Penyandang disabilitas kursi roda, Ayu Agustina mengatakan simulasi tersebut membuat dia tahu cara menyelamatkan diri jika terjadi gempa.

    "Simulasi ini harus sering dilakukan agar selalu ingat evakuasi mandiri," kata Ayu Agustina. Dengan begitu, menurut dia, selalu terbangun kesadaran siap siaga terhadap bencana dalam diri para penyandang disabilitas.

    Senada dengan Ayu, Erlina Marlinda yang juga penyandang disabilitas kursi roda mengatakan simulasi ini bermanfaat karena dia punya informasi bagaimana mengevakuasi diri ketika terjadi gempa saat berada di dalam bangunan.

    "Tapi kami yang menggunakan kursi roda belum mendapat informasi sepenuhnya ketika terjadi gempa di dalam ruangan," kata Erlina. "Kalau tunanetra atau tunarungu bisa menyelamatkan diri di bawah meja. Kami bagaimana?"

    Erlina juga menyoroti interaksi relawan tanggap bencana dengan penyandang disabilitas. Dia mengingatkan pola berkomunikasi dan bersikap dengan difabel berbeda-beda tergantung ragam disabilitasnya. "Interaksi dengan pengguna kursi roda, tunanetra, tunarungu, dan difabel lainnya, tentu tidak sama," kata Erlina Marlinda.

    Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Berkebutuhan Khusus Aceh, Syarifuddin mengatakan simulasi dan pelatihan evakuasi mandiri digelar untuk meningkatkan kemampuan penyandang disabilitas dalam menghadapi bencana. "Para penyandang disabilitas merupakan kelompok rentan, sehingga perlu belajar evakuasi mandiri ketika terjadi bencana," kata dia.

    Syarifuddin yang merupakan penyandang disabilitas netra mengkritisi sikap pemerintah yang dia anggap tidak peduli terhadap masyarakat berkebutuhan khusus. Buktinya, penyandang disabilitas tidak dibantu saat simulasi bencana. "Kami ingatkan kepada pemerintah jangan pernah mengatakan melawan lupa membangun siaga kepada kami yang disabilitas ini. Pemerintah tidak pernah buat pelatihan evakuasi mandiri," kata Syarifuddin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.