Kisah Kapten Tim Nasional Sepak Bola Disabilitas Marita Ariani

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Marita Ariani, kapten timnas sepak bola disabilitas intelektual putri, (foto: Antara)

    Marita Ariani, kapten timnas sepak bola disabilitas intelektual putri, (foto: Antara)

    TEMPO.CO, Jakarta - Marita Ariani adalah kapten tim nasional sepak bola penyandang disabilitas intelektual putri. Dia menceritakan pengalaman hidup sejak kecil hingga berhasil mengukir berbagai prestasi seperti sekarang.

    Marita Ariani yang kini berusia 20 tahun mengatakan sudah yatim piatu sejak duduk di taman kanak-kanak. Dia kemudian tinggal bersama neneknya, Sutinah, 81 tahun, di Kampung Mujahidin, Kelurahan Giyanti, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

    Untuk menyambung hidup sehari-har, Marita Ariani membantu Sutinah meracik bahan masakan atau mencuci piring di sebuah warung milik tetangga. "Saya mendapat upah sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu sehari. Berapa saja upahnya asalkan bisa makan," kata dia.

    Sebelum dipilih masuk tim sepak bola, Marita Ariana mengaku lebih fokus pada olah raga lari. Dia lantas mengikuti tim kelimaan nasional, hingga memperkuat tim nasional dalam berbagai pertandingan internasional, di antaranya di Abu Dhabi, Malaysia, Filipina, dan India.

    "Posisi saya sebagai penyerang dan kapten," kata Marita yang berhasil meraih medali emas, perak, dan perunggu dari sejumlah pertandingan internasional tersebut. Dalam pertandingan di India pada 2019, tim yang dikomandoi Marita Ariani menyabet medali emas serta menjadi runner up di Abu Dhabi 2018.

    Marita Ariani mengatakan pertandingan paling sengit yang pernah dia lalui adalah saat melawan Ukraina di Abu Dhabi dan India. Di Abu Dhabi, Indonesia menjadi juara II dengan skor 1 - 2 dan di India skor 3 - 1 untuk Indonesia. "Waktu bermain di Abu Dhabi tahun 2018 saya dapat bonus Rp 10 juta," kata dia.

    Bagi Marita Ariani, pengalaman bertanding di berbagai negara dirasa sudah cukup. Sekarang yang dia butuhkan adalah memiliki pekerjaan tetap. "Saya tidak menyesal, saya bangga bisa sampai ke mana-mana berkat sepak bola. Sekarang saya butuh pekerjaan tetap," kata Marita seraya berharap dapat bertemu Bupati Temanggung, Muhammad Al Khadziq, untuk menyampaikan keinginannya itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.