I-Cane, Tongkat Canggih untuk Tunanetra dari Bandung

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Syamsi Dhuha Foundation atau SDF, Dian Syarief mencoba menggunakan tongkat tunanetra I-Cane untuk naik dan turun tangga. TEMPO | Anwar Siswadi

    Ketua Syamsi Dhuha Foundation atau SDF, Dian Syarief mencoba menggunakan tongkat tunanetra I-Cane untuk naik dan turun tangga. TEMPO | Anwar Siswadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Tongkat tunanetra terdiri dari beragam jenis. Ada yang manual atau hanya berupa tongkat biasa sebagai pemandu disabilitas netra saat berjalan sampai tongkat yang dilengkapi teknologi mutakhir dengan berbagai fungsi.

    Salah satu tongkat tunanetra buatan dalam negeri yang dibenamkan teknologi terbaru bernama I-Cane. I-Cane merupakan hasil pengembangan karya juara ajang Lomba Desain Alat Bantu Disabilitas Netra atau LDABDN 2017 yang diadakan oleh lembaga Syamsi Dhuha Foundation atau SDF.

    Perancangan dan pengembangan I-Cane melibatkan mahasiswa program studi Desain Produk serta Biomedika Institut Teknologi Bandung atau ITB. Hasilnya, I-Cane diperkenalkan dalam acara Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day pada Sabtu, 12 Oktober 2019 di Bandung, Jawa Barat.

    I-Cane memiliki sistem yang dipusatkan pada kotak hitam dekat pegangan. Di dalamnya terpasang sensor untuk memberitahu benda yang ada di sekitarnya kepada pengguna. Dengan begitu, tunanetra yang memegang tongkat tersebut terhindar dari benturan. Saat diaktifkan, tongkat akan mengeluarkan bunyi seperti alarm jika ada rintangan yang jaraknya sekitar 1 meter di sekitarnya.

    Tongkat tunanetra I-Cane seberat 200-250 gram yang bisa diatur panjang pendeknya seperti antena. TEMPO | Anwar Siswadi

    Tempo sempat menjajal tongkat itu di kantor Syamsi Dhuha Foundation di Bandung, Senin, 14 Oktober 2019. Ada roda kecil di ujung tongkat untuk memudahkan penggunaan. Biasanya tunanetra harus meraba kondisi di sekitarnya dengan cara mengayunkan tongkat termasuk mengetukkan tongkat ke lantai atau rintangan lainnya.

    Dengan I-Cane, pengguna cukup mendorong tongkatnya di permukaan. Roda kecil di bagian bawah tongkat bisa berputar 360 derajat sehingga memudahkan pergerakan ke segala arah. Roda kecil itu juga dapat ditekuk untuk menjadi pijakan tongkat saat naik atau turun tangga.

    Ketua Syamsi Dhuha Foundation yang juga seorang low vision, Dian Syarief mengatakan sebuah tongkat berperan penting bagi tunanetra. "Selain membantu menunjuk jalan, tongkat tunanetra juga menjadi penjaga keseimbangan ketika berjalan," kata dia.

    Tongkat tunanetra I-Cane seberat 200-250 gram yang bisa diatur panjang pendeknya seperti antena. TEMPO | Anwar Siswadi

    Jika tunanetra kehilangan arah atau disorientasi, ada tombol darurat yang bisa dipencet di tongkat I-Cane. Tombol darurat tersebut akan mengirimkan sinyal kepada orang lain dan mengabarkan lokasi posisi tunanetra. Sebelum, mengaktifkan fungsi tombol darurat ini, harus lebih dulu memasukkan nomor kontak orang yang bisa dimintai bantuan dan membenamkan kartu SIM atau Subscriber Identity Module guna mengirimkan sinyal.

    Penerima kabar akan mendapatkan pesan pendek di telepon selulernya. Langkah selanjutnya, memeriksa koordinat posisi di Google Map. "Fungsi ini sangat bergantung pada sinyal telepon seluler," ujar Dian.

    Tongkat I-Cane berbobot sekitar 200 gram ini bisa dipanjang-pendekkan seperti tongkat tunanetra manual. Tongkat ini terbagi menjadi tiga ruas yang disertai penguat jepitan. Panjang tongkat maksimal 120 sentimeter. Jika tidak digunakan, tongkat tersebut bisa dipendekkan hingga 40 sentimeter sehingga dapat digenggam atau dimasukkan ke dalam tas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.