Simak Cara Tunanetra Pantau Anak Saat Baru Dapat Berjalan

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak bahagia (pixabay.com)

    Ilustrasi anak bahagia (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu tantangan menjadi orang tua dengan disabilitas netra adalah mengawasi buah hati yang sedang belajar berjalan. Walau begitu, beberapa orang tua ini memiliki tips memantau anak yang baru dapat berjalan.

    Baca: Bentuk Dukungan Anak untuk Ibu yang Sedang Menghadapi Masalah

    "Memang agak susah mengawasinya, apalagi Keisha anaknya aktif, kalau aku menyiasatinya dengan memakaikan gelang kaki," ujar M. Reza Akbar, orangtua dari Keisha Almeira (13 bulan), saat dihubungi Jumat 1 Maret 2019.

    Menurut media sosial officer di Think Web ini, dengan memakaikan gelang kaki pada anak yang baru belajar berjalan, orang tua tanpa visualisasi total seperti dirinya dapat mengawasi pergerakan anak. Orang tua dapat mengikuti suara yang dikeluarkan gelang kaki ketika anak bergerak. "Keisha anaknya aktif suka mengeksplorasi tempat kemana-mana, dengan gelang kaki aku jadi mudah mengikutinya dari belakang," ujar Akbar.

    Meski begitu, tidak berarti tantangan menjadi selesai. Terutama ketika anak mengajak bermain dan bercanda. Orang tua dengan keterbatasan penglihatan harus ikut mengeksplorasi sambil menghapal sudut yang biasa dihampiri anak.

    "Pernah sekali Keisha jahil, aku panggil-panggil namanya dia diam saja, aku pikir sudah keluar kamar, ternyata setelah diberitahu pengasuhnya, Keisha ada di ujung tempat tidur, begitu dihampiri dia malah tertawa-tawa, mungkin dikira main hide and seek," ujar Akbar.

    Lain lagi cara Rossa Merry. Ibu rumah tangga yang juga berprofesi sebagai guru bahasa Jerman ini memiliki visualisasi yang masih tersisa (Low Vision). Sebagai disabilitas netra low vision, Rossa berusaha sedekat mungkin dengan Arletta (14 bulan) ketika baru dapat berjalan.

    "Jadi saya selalu menjaga Arletta tetap berada dalam luas dan lapang pandang saya, kebetulan juga rumah tidak terlalu luas, jadi membantu sekali menjaga dia tidak kemana-mana," ujar Rossa.

    Cara lain yang digunakan Rossa adalah sistem bermain satu ruang. Saat Arletta belajar berjalan, Rossa dan suaminya memilih menutup beberapa pintu ruangan dan menjauhkan segala benda kecil berbahaya dari lantai. Termasuk tidak lupa menutup lemari pakaian, laci, dan kulkas setelah mengambil sesuatu di dalamnya.

    "Memang terkesan membatasi, tapi ini salah satu cara yang menurut kami harus dipilih untuk menghindari Arletta dan saya dari kondisi berbahaya," ujar Rossa.

    Baca: Ternyata Anak Jenius Masuk Anak Berkebutuhan Khusus

    Satu ruang ini tidak berarti anak harus main di kamar saja. Melainkan, bermain di beberapa ruangan yang harus dipersiapkan dulu. Seperti menciptakan kondisi ruangan menjadi luas dengan mengosongkan, dan menyingkirkan semua benda ke dinding ruangan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.