Difabel Kursi Roda Bikin Paket Wisata Disabilitas ke Machu Picchu

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Machu Picchu, peninggalan suku Inca, dibangun sekitar tahun 1450. Sejumlah ahli melakukan penelitian terhadap sepotong es yang terbentuk 1.200 tahun lalu. Lapis demi lapis diteliti, dan pada lapisan tahun 1480, era kerajaan Inca sedang jaya, ditemukan lonjakan bismuth, unsur kimia hasil produksi penyulingan perak. Matthias Schickhofer/ASAblanca via Getty Images

    Machu Picchu, peninggalan suku Inca, dibangun sekitar tahun 1450. Sejumlah ahli melakukan penelitian terhadap sepotong es yang terbentuk 1.200 tahun lalu. Lapis demi lapis diteliti, dan pada lapisan tahun 1480, era kerajaan Inca sedang jaya, ditemukan lonjakan bismuth, unsur kimia hasil produksi penyulingan perak. Matthias Schickhofer/ASAblanca via Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang difabel kursi roda bersama teman penyintasnya, Alvaro Silberstein dan Camilo Navarro membuat paket wisata disabililitas ke Machu Picchu, Peru. Mereka berinisiatif membuat paket wisata khusus ini karena menganggap masih kurangnya aksesibilitas bagi difabel di tempat itu.

    Machu Picchu yang merupakan situs bersejarah merupakan tujuan wisata menarik untuk siapa saja, termasuk difabel. Dengan desakan Alvaro Silberstein dan Camilo Navarro melalui paket wisata disabilitas itu, akhirnya pengelola situs kuno yang berusia lebih dari 600 tahun, itu membuka jalur bagi pengguna kursi roda.

    Baca: Penyandang Disabilitas Coba Fasilitas MRT, Berikut Catatannya

    Paket pariwisata bagi disabilitas ini dibuka sejak 6 bulan lalu. Alvaro Silberstein dan Camilo Navarro awalnya mencari pendanaan melalui mekanisme crowd funding untuk membeli tiket dan kursi roda modifikasi buat Silverstein. Mereka mengunggah kisah perjalanan menaklukan Machu Picchu. Cerita mereka menginspirasi banyak pendonor dan akhirnya berhasil menjadi program berkelanjutan.

    Turis mengambil foto selfie dengan llama di teras Machu Picchu, Peru. Ribuan orang berduyun-duyun setiap hari untuk melihat matahari terbit di benteng yang dibangun pada pertengahan abad ke-15 ini. Giovanna Dell'Orto/AP

    "Sejak dibuka sekitar 1983, belum ada yang mau menyediakan jalur dan aksesibilitas bagi pengunjung dengan disabilitas. Sebab itu kami mencoba menyediakan akses ini," ujar Camilo Navarro seperti dikutip dari CNN. Bermodalkan ilmu bisnis dari U.S Barkeley, mereka mulai membuka jalur wisatawan pengguna kursi roda dari Amerika Latin, seperti Chili, Meksiko, dan Peru.

    Baca juga: Indonesia Butuh Pabrik dan Bengkel Kursi Roda

    Program wisata terakses bernama Wheel The World ini juga menyediakan kursi roda di Machu Picchu. "Karena aksesibilitas itu tidak sama artinya dengan inklusifitas," ujar Camilo Navarro.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?