Riset: Potensi Bunuh Diri pada Difabel Cukup Besar

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bunuh diri. Shutterstock

    Ilustrasi bunuh diri. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah survei nasional morbiditas psikiatri di Inggris menunjukkan salah satu kelompok yang rentan melakukan bunuh diri adalah difabel. Kesimpulan sementara tersebut berdasarkan indikator penilaian terhadap kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari dan kesulitan instrumen untuk mengakses kegiatan sehari-hari.

    Baca: Debat Capres, Sandiaga Menyoroti Peluang Kerja Kaum Difabel

    "Kesulitan tersebut berdampak buruk bagi kesehatan mental, hingga menyebabkan depresi dan gangguan jiwa," tulis abstraksi penelitian yang tercantum dalam jurnal penelitian Sciencedirect.com. Salah satu konsekuensi dari depresi berat ini adalah keinginan bunuh diri.

    Kendati potensi tersebut belum tentu terwujud, penyandang disabilitas merupakan kelompok yang paling rentan merealisasikan potensi bunuh diri. Sepanjang 2017, pemerintah Inggris melakukan survei nasional morbiditas psikiatri terhadap 7.461 penyandang disabilitas.

    Dari survei itu, sekitar 1 dari 250 orang di masa itu memiliki keinginan dan pernah melakukan percobaan bunuh diri. Dan jumlah penyandang disabilitas yang memiliki keinginan bunuh diri empat kali lebih banyak dari penyebab umum keinginan bunuh diri lainnya, seperti kesepian, problem ekonomi, tidak bekerja, tidak berkeluarga atau tidak menikah, dan utang.

    Pendiri sekaligus suicidolog dari Into The Light, Benny Prawira mengatakan dalam konteks Indonesia, potensi bunuh diri di kalangan difabel pasti ada saja, hanya belum tahu angkanya. "Bisa saja lebih banyak atau lebih sedikit," kata dia kepada Tempo, Minggu 13 Januari 2019.

    Artikel lainnya:
    JPO Baru di Bundaran Senayan, Apa Saja Fitur yang Ramah Difabel

    Prediksi besaran potensi bunuh diri di kalangan penyandang disabilitas, menurut Benny, tidak dapat disampaikan dalam jumlah yang pasti. Musababnya, banyak faktor yang mempengaruhi bukan hanya cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari dan instrumen pendukung aksesibilitas, seperti yang tertera dalam survei nasional di Inggris tersebut. "Bunuh diri itu kompleks, ada faktor pelindung dan ada faktor risiko yang berbeda-beda, tergantung dari konteks bunuh dirinya," ujar Benny.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sandiaga Uno Alami Cegukan Saat Quick Count Pilpres 2019

    Dilansir Antara, Sandiaga Uno tak tampil di publik usai pelaksanaan Pilpres 2019 karena kabarnya ia cegukan. Beginilah proses terjadinya cegukan.