Minggu, 23 September 2018

Alasan Atlet Tuli Tak Ikut Serta di Asian Para Games 2018

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang atlet melemparkan tongkat lembingnya saat Kompetisi Olahraga Nasional untuk Tunanetra dan Tunarungu 2016 di Guatemala, 18 Mei 2016. Atlet dengan cacat visual dan pendengaran berkompetisi olahraga seperti pagar, judo, catur dan trek dan lapangan. AP/Moises Castillo

    Seorang atlet melemparkan tongkat lembingnya saat Kompetisi Olahraga Nasional untuk Tunanetra dan Tunarungu 2016 di Guatemala, 18 Mei 2016. Atlet dengan cacat visual dan pendengaran berkompetisi olahraga seperti pagar, judo, catur dan trek dan lapangan. AP/Moises Castillo

    TEMPO.CO, Jakarta - Asian Para Games 2018 akan berlangsung Oktober mendatang. Hanya saja, tidak semua atlet dari ragam disabilitas dapat berlaga di ajang olahraga bergengsi bagi penyandang disabilitas ini. Salah satunya atlet Tuli.

    Baca juga:
    Asian Para Games 2018, Wisma Atlet Kemayoran Ramah Disabilitas
    Mantan Pengawal Jusuf Kalla Akan Berlaga di Asian Para Games 2018

    "Asian Para Games tidak mengikutsertakan atlet Tuli, melainkan untuk ragam disabilitas lain," kata Ketua Umum Perhimpunan Olahraga Tunarungu Indonesia atau Porturin, Harpalis Alwi kepada Tempo, Senin 19 Agustus 2018.

    Ketidakikutsertaan para atlet Tuli di ajang Asian Para Games 2018 bukan karena dianggap tidak mampu menjalani kompetisi. Musababnya, banyak atlet Tuli yang memiliki kemampuan bertanding di atas kualifikasi disabilitas. Bahkan, rata-rata kemampuan para atlet Tuli sama dengan atlet non-disabilitas.

    "Atlet Tuli bisa turun di semua cabang olahraga dan mungkin lebih baik. Beberapa cabang olahraga dengan atlet antara lain panahan, menembak, angkat besi, atletik, dan lain-lain," ujar Harpalis. Seorang atlet Tuli yang berprestasi di ajang olahraga umum, yaitu pegulat Ardiansyah yang memperoleh medali emas di Sea Games, Laos pada 2009.

    Harparin melanjutkan, lantaran tidak mengalami hambatan fisik apapun dalam melakukan pertandingan, Ardiansyah diikutsertakan dalam kelompok atlet umum. Dan mewakili Indonesia di ajang Sea Games. Selain Ardiansyah, ada beberapa atlet Tuli lainnya yang berprestasi di bidang olahraga umum. Harpalis mencontohkan, atlet angkat besi dari Bandung, Jawa Barat, Deni Bestiadi yang memperoleh medali emas di ajang Pekan Olahraga Nasional atau PON.

    Karena kondisi yang agak berbeda itulah, para atlet Tuli memiliki induk organisasi olahraga yang terpisah dari olahraga umum dan terpisah dari paralympic. Organisasi tersebut bernama International Committee of Sport for The Deaf atau ICSD, yang beranggotakan 112 negara. Organisasi ini mengadakan perhelatan olahraga, seperti olimpiade dengan nama Deaflympic yang mempertandingkan 20 cabang olahraga.

    Untuk tingkat Asia, induk organisasinya bernama Asia Pasific Deaf Sport Confederation atau APDSC. Organisasi ini beranggotakan 32 negara di Asia Pasifik dan mempertandingkan 12 cabang olahraga. Organisasi ini mengadakan pertandingan multievent setiap 4 tahun sekali.

    Saat kongres ICSD dan APDSC yang berlangsung bersamaan di Turki pada Juli 2017, kedua induk organisasi sepakat membentuk ASEAN Deaf Sport Federation atau ADSF. Organisasi ini yang memayungi ajang multievent dua tahunan setingkat Sea Games bagi atlet Tuli. Induk organisasi ini terdiri dari 11 negara ASEAN dan mempertandingkan 6 cabang olahraga.

    Pertama kalinya ASDF akan menggelar pertandingan di Bangkok, Thailand pada 3 – 10 Desember 2018. Adapun 6 Cabang olahraga yang dipertandingkan adalah atletik, bulu tangkis, bowling, futsal, renang, dan tenis meja. "Indonesia akan ikut di hampir semua cabang olahraga, kecuali bowling," kata Harpalis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.