Senin, 17 Desember 2018

Kisah Perburuan Calon Atlet Asian Para Games 2018

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno dan Ketua umum Panitia Penyelenggara Asian Para Games 2018 Raja Sapta Oktohari melakukan tinjauan ke Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Juni 2018. Tempo/M Yusuf Manurung

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno dan Ketua umum Panitia Penyelenggara Asian Para Games 2018 Raja Sapta Oktohari melakukan tinjauan ke Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Juni 2018. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Asian Para Games 2018 bukan hanya menjadi ajang atlet penyandang disabilitas unjuk kemampuan. Asian Para Games juga menjadi ajang pencarian bakat sekaligus meningkatkan taraf hidup penyandang disabilitas.

    Baca juga:
    Asian Para Games 2018, INAPGOC Simulasi Kursi Roda di Bandara
    Asian Para Games 2018, Wisma Atlet Kemayoran Ramah Disabilitas

    Hanya saja mencari penyandang disabilitas yang memiliki kemampuan di bidang olahraga tidaklah mudah. Sebab banyak penyandang disabilitas yang kemampuan tidak terdeteksi oleh National Paralympic Committee atau NPC karena keluarga merasa malu dan tidak mengakui bila salah satu anggota keluarga adalah penyandang disabilitas.

    "Di Klaten, saya harus mengetuk pintu rumah satu persatu untuk mencari penyandang disabilitas agar bisa bergabung di bidang olahraga apapun sesuai bakatnya," ujar atlet panahan Asian Para Games, Subagyo saat dihubungi Tempo, Minggu 5 Agustus 2018.

    Menurut pria yang juga pengurus NPC Klaten ini, mencari bibit atlet penyandang disabilitas tidak dengan cara menyaring kemampuan para atlet, melainkan menggali jenis potensi yang ada. Terkadang lebih banyak klasifikasi bidang olahraga dibandingkan ketersediaan atlet. "Ada yang semula berlaga sebagai atlet angkat besi kemudian berganti cabang olahraga, menjadi panahan atau tenis," ujar Subagyo.

    Fajar Brilianto, pelatih tim bola basket kursi roda di asian para games 2018. istimewa

    Pengalaman serupa juga dialami oleh pelatih basket kursi roda, Fajar Brillianto. Saat menyeleksi 12 atlet basket kursi roda, Fajar mengikutsertakan para atlet dari cabang olahraga lain sebelumnya. "Ada yang berasal dari cabang olahraga atletik, yang penting punya kemampuan mengendalikan kursi roda dengan baik," ujar Fajar saat tes even Asian Paragames di Gelora Bung Karno.

    Artikel lainnya:
    Pelatih Atlet Basket Kursi Roda Pertama di Asian Para Games 2018

    Selain mencari dari pintu ke pintu, Subagyo yang berlaga di nomor wheel chair single Asian Para Games Oktober 2018 ini juga mencari calon atlet dari sekolah-sekolah luar biasa. "Yang paling penting mau olahraga dulu," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".